Search   
Navigasi
Jajak Pendapat
Jajak Pendapat tidak ditemukan.
DEFINISI, RUANG LINGKUP DAN ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN

Apa sesungguhnya tujuan pendidikan itu? Inilah pertanyaan yang harus dijawab filsafat pendidikan. Lebih rinci lagi filsafat pendidikan mempertanyakan sejumlah pertanyaan penting sebagai berikut: 1) Pengetahuan apa yang paling berharga? 2) Pengetahuan apa yang mesti diajarkan? 3) Bagaimana manusia memperoleh pengetahuan? 4) Bagaimana Manusia belajar? 5) Bagaimana sebaiknya hubungan antara guru dan siswa? Berfilsafat pendidikan adalah suatu upaya yang sangat komplek, namun sangat penting. Segala keputusan dalam bidang akan sangat bergantung pada filsafat pendidikan. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita para pendidik untuk memahami dan mempelajari filsafat pendidikan. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, ada beberapa rumusan masalah yang akan dibahas seperti berikut:

1. Apa pengertian Filsafat Pendidikan?

2. Bagaimana ruang lingkup bahasan filsafat pendidikan?

3. Bagaimana hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan?

4. Apa saja aliran filsafat pendidikan modern dan bagaimana filsafat pendidikan tersebut ditinjau dari ontologi, epistomologi, dan aksiologi?

Pengertian Filsafat Pendidikan

Menurut Al-Syaibany dalam Jalaludin & Idi (2007: 19), filsafat pendidik­an adalah aktivitas pikiran yang teratur yang menjadikan filsafat sebagai jalan untuk mengatur, menyelaraskan, dan memadukan proses pendidikan. Artinya, filsafat pendidikan dapat menjelas­kan nilai-nilai dan maklumat-maklumat yang diupayakan untuk mencapainya. Dalam hal ini, filsafat, filsafat pendidikan, dan pengalaman kemanusiaan merupakan faktor yang integral. Filsafat pendidikan juga bisa didefinisikan sebagai kaidah filosofis dalam bidang pendidikan yang menggambarkan aspek­-aspek pelaksanaan falsafah umum dan menitikberatkan pada pelaksanaan prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasar dari filsafat umum dalam upaya memecahkan persoalan-persoal­an pendidikan secara praktis.

Sementara Dewey dalam Jalaludin & Idi (2007: 20) menyampaikan bahwa filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (intelektual) maupun daya perasa­an (emosional), menuju tabiat manusia. Sementara menurut Thompson (Arifin, 1993: 2), filsafat artinya melihat suatu masalah secara total dengan tanpa ada batas atau implikasinya; ia tidak hanya melihat tujuan, metode atau alat-alatnya, tapi juga meneliti dengan saksama hal-hal yang dimaksud. Keseluruhan masalah yang dipikirkan oleh filosof tersebut merupakan suatu upaya untuk menemukan hakikat masalah, sedangkan suatu hakikat itu dapat dibakukan melalui proses kompromi.

Lebih jauh Barnadib (Jalaludin & Idi, 2007: 20), menyatakan bahwa filsafat pendidik­an merupakan ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisis filosofis terhadap bidang pendidikan. Sedangkan menurut seorang ahli filsafat Amerika, Brubachen (Arifin, 1993: 3), filsafat pendi­dikan adalah seperti menaruh sebuah kereta di depan seekor kuda, dan filsafat dipandang sebagai bunga, bukan sebagai akar tunggal pendidikan. Filsafat pendidikan itu berdiri secara bebas dengan memperoleh keuntungan karena punya kaitan dengan filsafat umum. Kendati kaitan ini tidak penting, tapi yang terja­di ialah suatu keterpaduan antara pandangan filosofis dengan filsafat pendidikan, karena filsafat sering diartikan sebagai teori pendidikan dalam segala tahap. Lebih jauh, Alwasilah (2008: 15) menyatakan bahwa filsafat pendidikan dapat didefinisikan sebagai teori yang mendasari alam pikiran ihwal pendidikan atau suatu kegiatan pendidikan.

Berdasarkan uraian diatas dapat kita tarik pengertian bahwa filsafat pendidikan sebagai ilmu pengetahuan normatif dalam bidang pendidikan merumuskan kaidah-kaidah norma dan atau ukuran tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan oleh manusia dalam hidup dan kehidupannya.

Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan

Menurut Jalaludin & Idi (2007: 24) secara mikro yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan meliputi:

1. Merumuskan secara tegas sifat hakikat pendidikan (the nature of education);

2. Merumuskan sifat hakikat manusia, sebagai subjek dan objek pendidikan (the nature of man);

3. Merumuskan secara tegas hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, agama dan kebudayaan;

4. Merumuskan hubungan antara filsafat, filsafat pendidikan, dan teori pendidikan;

5. Merumuskan hubungan antara filsafat Negara (ideologi), filsafat pendidikan dan politik pendidikan (sistem pendidik­an);

6. Merumuskan sistem nilai-norma atau isi moral pendidik­an yang merupakan tujuan pendidikan.

Dengan demikian, dari uraian di atas diperoleh suatu kesim­pulan bahwa yang menjadi ruang lingkup filsafat pendidikan itu ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan yang baik dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.

Hubungan Filsafat dengan Filsafat Pendidikan

Hubungan antara filsafat dan filsafat pendidikan sangatlah penting sebab ia menjadi dasar, arah dan pedoman suatu sistem pendidikan. Menurut Jalaludin & Idi (2007: 32) filsafat pendidikan merupakan aktivitas pemikiran teratur yang menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan, menyelaraskan dan mengharmoniskan serta menerangkan nilai-nilai dan tujuan yang ingin di capai.

Lebih jauh, Jalaludin & Idi (2007: 32) menyampaikan hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan, sebagai berikut:

1. Filsafat merupakan suatu cara pendekatan yang dipakai untuk memecahkan problematika pendidikan dan menyususn teori-teori pendidikan.

2. Filsafat berfungsi memberi arah terhadap teori pendidikan yang memiliki relevansi dengan kehidupan yang nyata.

3. Filsafat, dalam hal ini fisafat pendidikan, mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan.

Adapun hubungan filsafat umum dan filsafat pendidikan terdapat batasan-batasan sebagai berikut:

1. Filsafat pendidikan merupakan pelaksana pandangan filsafat dan kaidah filsafat dalam bidang pengalaman kemanusiaan yang disebut pendidikan.

2. Kajian tentang filsafat pendidikan sangat penting karena merupakan upaya dalam pengembangan pandangan terhadap proses pendidikan dalam upaya memperbaikai keadaan pendidikan.

3. Filsafat pendidikan memiliki prinsip-prinsip, kepercayaan, konsep andaian yang kontinuansi satu sama lainnya.

Menurut Saifullah (Zuhairini,1991: 18), antara filsafat, filsafat pendidik­an dan teori pendidikan terdapat hubungan yang suplementer: filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi mengarahkan pusat perhatian dan memusatkan kegiatannya pada dua fungsi tugas normatif ilmiah, yaitu:

· kegiatan merumuskan dasar-dasar, tujuan-tujuan pendidik­an, konsep tentang hakikat manusia, serta konsepsi hakikat dan segi pendidikan,

· kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat.

Dari uraian di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa antara filsafat pendidikan dan pendidikan terdapat suatu hubung­an yang erat sekali dan tak terpisahkan. Filsafat pendidikan mempunyai peranan yang amat penting dalam sistem pendi­dikan karena filsafat merupakan pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha-usaha perbaikan, meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem pendidikan.

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT PENDIDIKAN MODERN
DITINJAU Dari ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, Dan AKSIOLOGI

Pengertian Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi

Menurut Jalaludin & Idi (2007: 83) ontologi berarti ilmu hakikat yang menyelidiki alam nyata dan bagaimana keadaan yang sebenarnya: apakah hakikat di balik alam nyata ini. Ontologi menyelidiki hakikat dari segala sesuatu dari alam nyata yang sangat terbatas bagi panca indra kita. Bagaimana realita yang ada ini, apakah materi saja, apakah wujud sesuatu ini bersifat tetap, kekal tanpa perubahan, apakah realita berbentuk satu unsur (monisme), dua unsur (dualisme), ataukah terdiri dari unsur yang banyak (pluralisme).

Sedangkan Muhadjir dalam Syafiie (2004:9) menyampaikan bahwa objek telaah ontologi adalah yang ada tidak terikat pada satu perwujudan tertentu, ontologi membahas tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan vang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Jadi yang menjadi landasan dalam tataran ontologi ini adalah apa objek yang ditelaah, bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut, bagaimana pula hubungan objek tersebut dengan daya pikir dan penangkapan manusia.

 

-> Oleh pada December 24 2011 13:35:21 · 0 komentar · 12112 Dibaca · Cetak
Komentar
Tidak ada kiriman komentar.
Kirim Komentar
Nama:

Kode Validasi:


Masukkan Kode Validasi:

Peringkat
Peringkat tersedia hanya untuk anggota.

Silahkan login atau daftar untuk voting.

Belum ada kiriman peringkat.
Google Translate
Login
Username

Password



Lupa password?
Minta yang baru disini.
Log Pengguna



Memuat...


Profil Anggota
086010051
Anggota


Tanggal Bergabung:
23 October 2010
Kunjungan Terakhir:
14 October 2012