BANDUNG, unpas.ac.id — Mahasiswi Program Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan (FK Unpas) Dina Anandita Irawan, berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 2 dalam ajang Grand Final International Oral Presentation pada rangkaian 5th International Conference and Tocology Update 2026.
Kompetisi bergengsi tingkat internasional ini diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Surakarta.
Dina mengikuti kategori International Oral Presentation, sebuah kompetisi yang tidak hanya menilai kemampuan akademik, tetapi juga menguji daya pikir kritis, ketajaman analisis, serta keterampilan komunikasi ilmiah secara sistematis di bidang kedokteran.
“Saya tertarik mengikuti lomba ini karena oral presentation bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi juga bagaimana kita mampu berpikir kritis, menganalisis masalah, dan menyampaikan gagasan berbasis bukti secara jelas dan sistematis,” ujar Dina.

Keikutsertaan Dina di ajang ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Ia mengaku awalnya tidak menyangka dapat lolos hingga babak grand final. Bahkan, ia menjadi satu-satunya perwakilan dari Jawa Barat yang berhasil melaju ke tahap akhir, sekaligus satu-satunya peserta dari Indonesia yang meraih gelar juara dalam kompetisi tersebut.
“Saya bangga bisa membawa nama FK Unpas di kancah internasional. Banyak peserta yang sangat kompeten, terutama dari China, Thailand, Inggris, dan Singapura, yang menjadi saingan terkuat,” ungkapnya.
Dalam konferensi yang mengangkat tema “Real Stories, Real Action: The Role of Adolescents in Creating Healthy Families and Communities,” Dina mempresentasikan hasil penelitiannya tentang peran remaja sebagai agen perubahan dalam menciptakan keluarga dan komunitas yang sehat.
Penelitiannya menekankan bahwa remaja tidak seharusnya hanya menjadi objek program kesehatan, melainkan subjek aktif yang berdaya. Melalui pendekatan Evidence-Based Medicine dan implementasi keunggulan FK Unpas dalam Public Health Empowerment Program, Dina memperkenalkan solusi aplikatif bertajuk “SMART MARRIAGE”.
Program SMART MARRIAGE merupakan model preventif komprehensif untuk mencegah pernikahan dini, dengan lima pilar utama:
S – Self Readiness
M – Medical and Mental Health Literacy
A – Academic and Career Planning
R – Relationship and Responsibility Education
T – Technology-Based Engagement

Model ini tidak hanya menyasar individu remaja, tetapi juga membangun ekosistem pendukung yang melibatkan keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, serta pemangku kebijakan. Program tersebut dirancang selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya dalam peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Meski membuahkan hasil membanggakan, perjalanan Dina tidak lepas dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah menyampaikan materi ilmiah secara profesional dan komunikatif dalam waktu singkat di hadapan audiens internasional. Selain itu, penggunaan bahasa Inggris akademik yang jelas dan percaya diri di depan juri serta peserta dari berbagai negara menjadi ujian tersendiri. Sesi tanya jawab pun menuntut pemahaman mendalam serta kemampuan berpikir kritis secara spontan.
Namun, dari tantangan tersebut, Dina justru mendapatkan pengalaman berharga. Ia mengaku memperoleh wawasan baru tentang standar kompetisi global di dunia kedokteran, sekaligus memperluas jejaring dengan dokter dan akademisi dari berbagai negara.
Dina juga menyampaikan pesan inspiratif bagi mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi internasional.
“Jangan takut untuk mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman. Persiapkan materi dengan matang, pahami topik secara mendalam, dan latih kemampuan public speaking. Kompetisi bukan hanya soal juara, tetapi tentang proses belajar, membangun relasi, dan mengasah kepercayaan diri,” pesannya.
Ia juga menambahkan bahwa keikutsertaan dalam konferensi dan presentasi ilmiah internasional menjadi nilai tambah penting, khususnya bagi mahasiswa kedokteran yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis. (Rani)
