BANDUNG, unpas.ac.id – Universitas Pasundan (Unpas) menjadi tuan rumah penyelenggaraan Lokakarya Laporan Hasil Program Bantuan Program Studi pada Pendidikan Tinggi Vokasi yang Menerapkan Kurikulum Link and Match dengan DUDIKA Tahun 2025. Kegiatan yang melibatkan 40 peserta secara luring dan daring ini berlangsung di Aula Mandalasaba Ir. H. Djuanda, Kampus II Unpas Tamansari, Kamis (27/11/2025).
Lokakarya diselenggarakan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, sebagai upaya mendukung pelaksanaan program bantuan bagi PTN dan PTS penerima Program LNMD.
Wakil Rektor Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, Alumni, Agama, dan Budaya Unpas, Prof. Dr. Cartono, S.Pd., M.Pd., M.T., menyampaikan bahwa pendidikan vokasi memiliki banyak praktik baik dalam membangun kemitraan strategis.
“Kita banyak belajar dari vokasi bagaimana menjalin hubungan strategis. Ini eranya kolaboratif,” ujarnya.

Prof. Cartono juga menekankan pentingnya hilirisasi riset serta kerja sama industri agar hasil penelitian dapat diproduksi secara massal dan memberi dampak lebih luas.
Melalui sambungan daring, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T. menyoroti tantangan global yang terus berkembang.
“Kita menghadapi perubahan cepat akibat disrupsi teknologi, AI, IoT, serta isu sosial dan lingkungan. Pendidikan vokasi harus adaptif menyiapkan SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa Permendiktisaintek No. 39 Tahun 2025 menjadi kerangka baru penjaminan mutu yang mendorong kampus vokasi merancang kurikulum lebih fleksibel bersama DUDIKA. Tahun 2025, program LNMD diikuti oleh 9 program studi dari 9 perguruan tinggi.
Dalam kegiatan ini, peserta dibagi menjadi empat kelompok yang difasilitasi tim pembahas dari Belmawa. Pembahasan berfokus pada penerapan kurikulum berbasis link and match, kesesuaian dengan Permendiktisaintek, dan pelaksanaan revisi kurikulum hasil monitoring sebelumnya.
Dalam penyampaian kesimpulan, perwakilan tim pembahas, Surateno, mengapresiasi upaya masing-masing program studi. “Kami melihat adanya perbaikan signifikan dari hasil monev sebelumnya. Namun beberapa catatan harus ditindaklanjuti, terutama terkait penyelesaian dokumen kurikulum,” jelasnya.

Ia menegaskan pentingnya pemenuhan seluruh tahapan kurikulum sesuai panduan serta memperhatikan karakteristik khusus tiap program studi.
PJ Kurikulum dan Capaian Pembelajaran, Nur Masyitah Syam, menutup kegiatan dengan menegaskan bahwa program bantuan ini dirancang untuk memperkuat relevansi pendidikan vokasi.
“Pendidikan vokasi menghasilkan lulusan siap kerja atau siap usaha dengan masa tunggu minimal. Program ini diharapkan melahirkan praktik baik yang bisa menjadi contoh bagi perguruan tinggi vokasi lainnya.” (Rani)
