BANDUNG, unpas.ac.id – Mahasiswi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Program Studi Pendidikan Ekonomi, Nabila Safira Azzahra resmi dinobatkan sebagai Winner Putri Duta Pendidikan Jawa Barat 2026 dalam ajang Duta Pendidikan Jawa Barat.
Perempuan kelahiran 28 Maret 2005 ini dikenal aktif dalam berbagai organisasi, baik internal maupun eksternal kampus. Di lingkungan internal, Nabila tergabung dalam HIMAKSI dan menjabat sebagai Kepala Divisi Keorganisasian dan SDM. Sementara di ranah eksternal, ia dipercaya sebagai Ketua Kompartemen Editor bidang Kominfo HIPMI Perguruan Tinggi Unpas. Tak hanya itu, ia juga terlibat dalam program BEM KM Unpas Desa Binaan di SDN 116 Cicaheum.
Keaktifannya tak berhenti di dunia organisasi. Nabila juga menekuni hobi di bidang editing, seni tari tradisional, serta modern dance. Baginya, kreativitas dan pendidikan merupakan dua hal yang saling melengkapi dalam membentuk generasi muda yang adaptif.
Perjalanan Menjadi Winner

Perjalanan Nabila di ajang Duta Pendidikan Jawa Barat bermula dari rekomendasi program studinya yang melihat potensi dalam dirinya. Berbekal keberanian untuk belajar hal baru dan semangat berkontribusi bagi pendidikan di Jawa Barat, ia mengikuti seluruh tahapan seleksi mulai dari audisi tahap pertama, tahap kedua, penetapan finalis, social media challenge, pra karantina, hingga grand final yang digelar di Dago Tea House.
Ajang ini menjadi pengalaman pageant pertamanya. Awalnya, gelar juara hanya ia anggap sebagai mimpi. Namun berkat kegigihan, ketekunan, kemampuan beradaptasi, serta keberanian menaklukkan rasa takut dan keraguan diri, Nabila akhirnya secara terhormat diamanahi sebagai Winner Putri Duta Pendidikan Jawa Barat 2026.
“Momen paling berkesan adalah ketika saya berani melangkah keluar dari zona nyaman. Dari sana, saya belajar bahwa kompetisi sejati adalah menjadi versi terbaik dari diri kita sendiri,” ungkapnya.
Mengikuti ajang ini membawa perubahan besar dalam dirinya. Nabila mengaku mengalami pergeseran pola pikir, dari sekadar academic mindset menjadi impactful mindset. Ia menyadari bahwa kecerdasan intelektual tidak akan bermakna tanpa kepekaan sosial.
Kini, mahasiswi semester 6 ini lebih percaya diri menyuarakan isu-isu pendidikan, khususnya terkait literasi digital, pendidikan karakter, dan literasi finansial yang menurutnya masih menjadi tantangan di berbagai daerah di Jawa Barat.
Advokasi AGH: Adaptive Generation Hub

Sebagai bentuk komitmennya, Nabila mengusung program advokasi bernama AGH (Adaptive Generation Hub). Program ini bertujuan memutus rantai kesenjangan digital dan rendahnya literasi finansial melalui tiga pilar utama:
1. Pilar Integritas Digital (pendidikan karakter)
2. Pilar Resiliensi Ekonomi (literasi finansial)
3. Pilar Identitas Budaya (Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh)
AGH dirancang sebagai ekosistem kolaboratif yang melibatkan komunitas lokal, sekolah, pelaku usaha, masyarakat, dan pelajar, termasuk di kawasan tertinggal. Nabila menerapkan sistem “estafet ilmu”, dengan melatih pemuda di berbagai daerah agar menjadi mentor bagi lingkungannya masing-masing.
Nabila juga memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi dan pemantauan program, sekaligus menjadi role model dalam penggunaan teknologi secara positif.
Menurut Nabila, generasi muda memiliki tiga peran krusial sebagai “Akselerator Pendidikan” di Jawa Barat, yakni sebagai inovator, kolaborator, dan role model. Ia menekankan pentingnya nilai kearifan lokal seperti Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan adaptif.
“Kontribusi terbaik adalah ketika ilmu yang kita miliki tidak berhenti di diri sendiri, tetapi mengalir dan memberdayakan orang lain. Pendidikan adalah maraton panjang,” pesannya.
Harapan untuk Pendidikan Jawa Barat

Bagi Nabila, gelar Winner bukan sekadar mahkota dan selempang, melainkan tanggung jawab besar untuk membuka pintu kolaborasi dan memberi manfaat seluas-luasnya. Ia berharap Jawa Barat mampu menjadi pionir pendidikan berbasis kearifan lokal yang mampu menjawab tantangan global.
Ia memimpikan masa depan di mana tidak ada lagi kesenjangan akses pendidikan antara pelajar di pelosok dan di perkotaan, serta lahirnya generasi yang tidak hanya siap kerja, tetapi juga memiliki resiliensi ekonomi dan integritas karakter yang kuat.
Nabila Safira Azzahra membuktikan bahwa generasi muda Jawa Barat mampu menjadi penggerak perubahan nyata di dunia pendidikan dengan semangat inklusivitas dan keberanian melangkah keluar dari zona nyaman. (Rani)
