SUBANG, unpas.ac.id – Universitas Pasundan (Unpas) terus menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi berbasis teknologi untuk mendukung ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan. Melalui dosen-dosen kreatifnya, Ferry Mulyanto, S.T., M.Kom. dan M. Tirta Mulia, S.T., M.T. mengembangkan alat bernama Fertiflow yang mampu mengalirkan nutrisi secara otomatis ke lahan pertanian menggunakan limbah cair peternakan sapi perah. Saat ini teknologi Fertiflow diterapkan di PT. Agrijaya Prima Sukses (APS), Jalan Cagak, Kabupaten Subang.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, PPM, dan Dana Usaha Unpas Prof. Dr. H. M. Budiana, S.I.P., M.Si. menegaskan bahwa kehadiran Fertiflow menjadi bukti nyata kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab tantangan nasional, khususnya di bidang ketahanan pangan.
“Ini satu bukti nyata. Alat Fertiflow mampu mengalirkan nutrisi secara otomatis ke lahan dengan memanfaatkan limbah cair dari peternakan sapi perah,” ujarnya saat meninjau langsung implementasi teknologi tersebut di PT. APS, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, inovasi ini bahkan telah mengantarkan tim peneliti Unpas memperoleh penghargaan Anugerah Kerja Sama Diktisaintek dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) sekitar satu tahun lalu.
Prof. Budiana menilai inovasi tersebut sangat relevan dengan program ketahanan pangan yang saat ini tengah digaungkan pemerintah.
“Unpas melalui dosen-dosen muda yang kreatif telah melakukan inovasi seperti ini. Tanpa banyak bicara, mereka sudah berbuat untuk bangsa dan negara melalui teknologi,” katanya.

Prof. Budiana menjelaskan, sebelum hadirnya Fertiflow, PT. APS belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang optimal. Kini, teknologi tersebut dinilai mampu membantu perusahaan dalam menciptakan sirkulasi ekonomi yang memberikan nilai tambah.
Selain itu, ia menyebut peluang pengembangan teknologi ini masih sangat besar, baik untuk pemerintah daerah maupun sektor swasta lainnya, Unpas juga siap mengintegrasikan inovasi tersebut dengan berbagai disiplin ilmu lain seperti lingkungan, tata letak lahan, pemodelan bisnis, hingga kebijakan publik.

Sementara itu, M. Tirta Mulia mengungkapkan bahwa keberanian timnya berinvestasi dalam pengembangan teknologi tersebut didukung oleh kontrak kerja sama jangka panjang dengan PT. APS.
“Kita menjaga kontrak ini selama lima tahun. Cost maintenance alat juga sudah diperhitungkan agar sistem terus berjalan,” ujarnya.

Menurut Tirta, keberhasilan implementasi Fertiflow membuat PT. APS semakin percaya dan menawarkan pengelolaan lahan seluas 6,5 hektare, bahkan berpotensi lebih luas lagi ke depannya.
Ia menjelaskan, keuntungan yang diperoleh perusahaan bukan hanya dari pengelolaan limbah, tetapi juga dari hasil produksi pakan sapi berkualitas dengan harga lokal. PT. APS sendiri diketahui merupakan salah satu pemasok susu bagi Ultra dan menjadi produsen susu terbesar di Indonesia.
Tirta juga menyoroti pentingnya pengelolaan limbah peternakan secara serius, mengingat pencemaran justru banyak berasal dari peternakan milik masyarakat.
“Untuk menghindari limbah tersebar ke sungai, kita perlu kerja sama semua pihak,” katanya.

Di sisi lain, Ferry Mulyanto menjelaskan bahwa konsep yang dibangun tidak hanya sebatas penggunaan alat, melainkan menciptakan ekosistem sirkular yang saling menguntungkan.
Menurutnya, selama ini limbah peternakan di PT. APS sebagian besar hanya dibuang atau dimanfaatkan secara terbatas. Melalui Fertiflow, limbah tersebut diolah untuk mendukung penanaman jagung di lahan milik perusahaan sendiri.
“Kita coba memotong cost transportasi karena limbah organik volumenya besar. Kalau harus dibawa terlalu jauh tentu tidak efisien,” ujarnya.
Hasil panen jagung tersebut nantinya akan dijual kembali kepada PT. APS sebagai pakan ternak, sehingga tercipta siklus ekonomi berkelanjutan antara pengelolaan limbah dan kebutuhan peternakan.

Kemudian Dekan FISIP Unpas, Dr. Kunkunrat, M.Si. menambahkan bahwa inovasi Fertiflow dapat didukung berbagai bidang ilmu pengetahuan lain, tidak hanya informatika.
Ia menyebut Program Studi Administrasi Bisnis hingga Administrasi Publik memiliki peran penting dalam membangun ekosistem communal waste processing yang terintegrasi. Bahkan, Program Studi Hubungan Internasional juga dinilai relevan karena inovasi tersebut berkaitan dengan pengembangan bisnis terintegrasi berbasis ekonomi sirkular. (Rani)
