BANDUNG, unpas.ac.id – Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas), Dr. Dhini Ardianti, S.Sos., M.I.Kom., menjadi narasumber dalam Seri Webinar #157 “KORPRI MENYAPA ASN” bertema “ASN Content Creators Academy: Dari Birokrasi ke FYP, Bangun Kepercayaan Publik Lewat Medsos”. Kegiatan ini digelar secara virtual melalui Zoom dan YouTube, Kamis (30/4/2026).
Dalam pemaparannya, Dhini membawakan materi berjudul “Strategi Digital Branding Instansi Pemerintah, Nggak Cuma Eksis, Harus Berkesan: Rumus Branding Medsos Instansi yang Bikin Publik Percaya”. Ia menekankan bahwa media sosial kini telah menjadi kanal utama komunikasi publik.
“Pengguna media sosial saat ini kurang lebih mencapai 175 juta jiwa dengan rata-rata penggunaan 3 hingga 3,5 jam per hari. Pertanyaannya bukan lagi apakah instansi harus hadir, tapi apakah instansi mampu dipercaya di tengah banjir informasi,” ujarnya kepada peserta webinar.
Dhini menjelaskan bahwa instansi pemerintah kerap dipersepsikan sebagai lembaga yang kaku, birokratis, dan kurang relevan dengan perkembangan zaman. Akibatnya, banyak akun media sosial instansi yang sekadar aktif, namun minim interaksi. Ia menilai digital branding yang efektif dapat menjadi solusi untuk mengubah citra tersebut menjadi lebih humanis dan solutif.

Menurutnya, tujuan utama digital branding adalah mengikis citra negatif, membangun citra positif, meningkatkan kesadaran merek (brand awareness), serta menyosialisasikan program kerja agar lebih mudah dipahami masyarakat.
Lebih lanjut, Dhini memperkenalkan pendekatan perencanaan komunikasi berbasis sistem SOSTAC (Situation, Objectives, Strategy, Tactics, Action, Control). Model ini dinilai mampu membantu instansi merancang strategi komunikasi yang tidak sekadar formalitas, tetapi terukur dan berkelanjutan sebagai bagian dari pelayanan publik.
Dalam sesi tersebut, ia juga membagikan beberapa jenis konten yang dinilai efektif untuk menarik perhatian publik di media sosial, di antaranya konten edukasi berbentuk tutorial (How-To), klarifikasi informasi melalui konsep Myth vs Fact, konten di balik layar (Behind the Scenes) yang menampilkan sisi humanis ASN, serta Govtainment yang mengemas pesan edukatif dengan tren populer.
“Branding adalah janji. Media sosial adalah tempat kita memberikan janji pelayanan. Kepercayaan publik lahir saat apa yang diposting di media sosial selaras dengan kenyataan di lapangan,” pungkasnya. (Rani)
