BANDUNG, unpas.ac.id — Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Pasundan (FK Unpas), dr. Muhammad Luthfi Rafshanzany, yang saat ini menjalani program internship di RSUD Dompu, Nusa Tenggara Barat, mengingatkan masyarakat akan bahaya hipertensi yang kerap disebut sebagai silent killer.
Menurut dr. Luthfi, hipertensi sering tidak menimbulkan gejala hingga terjadi kerusakan serius pada organ tubuh. Kondisi ini membuat hipertensi menjadi salah satu penyakit yang berbahaya karena berkembang secara diam-diam.
“Banyak pasien baru menyadari setelah muncul komplikasi seperti stroke, serangan jantung, atau gagal ginjal,” ujarnya kepada Minpas, Kamis (30/4/2026).
Penyebab dan Faktor Risiko
Sebagian besar kasus hipertensi merupakan hipertensi esensial atau primer, yang tidak memiliki satu penyebab pasti. Kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan gaya hidup. Sementara itu, hipertensi sekunder dapat disebabkan oleh penyakit tertentu seperti gangguan ginjal, hormonal, atau penggunaan obat-obatan tertentu.
Gaya hidup menjadi faktor yang sangat berperan dalam peningkatan tekanan darah. Konsumsi garam berlebih, obesitas terutama di area perut, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta pola makan tinggi lemak dan gula menjadi pemicu utama. Selain itu, riwayat keluarga juga meningkatkan risiko seseorang mengalami hipertensi.
Hipertensi kini tidak lagi identik dengan usia lanjut. Perubahan gaya hidup membuat penyakit ini juga banyak ditemukan pada usia muda. Pola makan tidak sehat, kurang olahraga, serta kondisi medis tertentu menjadi pemicu meningkatnya kasus hipertensi di kalangan muda.
Meski sering tanpa gejala, beberapa tanda yang dapat muncul antara lain sakit kepala di bagian tengkuk, pusing, mudah lelah, jantung berdebar, hingga penglihatan kabur.
Jika tidak dikendalikan, hipertensi dapat merusak berbagai organ penting:
- Jantung: meningkatkan risiko gagal jantung dan penyakit jantung koroner
- Otak: menyebabkan stroke akibat pecahnya pembuluh darah
- Ginjal: menurunkan fungsi penyaringan hingga gagal ginjal
- Mata: memicu retinopati dan gangguan penglihatan
Pentingnya Skrining Rutin
Alumini FK Unpas ini menekankan pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara berkala:
- Minimal 1 kali per tahun untuk individu sehat
- Setiap 3–6 bulan bagi kelompok berisiko tinggi
- Lebih sering bagi pasien yang sudah terdiagnosis hipertensi
Pengobatan dan Pengendalian
Pengobatan hipertensi bergantung pada tingkat keparahan. Pada derajat ringan, perubahan gaya hidup menjadi langkah awal sebelum penggunaan obat. Namun, pada kondisi lebih berat, terapi obat dapat langsung diberikan.
Meski umumnya tidak dapat disembuhkan total, hipertensi dapat dikendalikan dengan baik untuk mencegah komplikasi.
Upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi meliputi:
- Mengurangi konsumsi garam (maksimal 2 gram per hari)
- Menerapkan pola makan sehat seperti diet DASH (Dietary Approaches To Stop Hypertension) yaitu diet kaya akan sayuran, buah buahan, produk susu rendah lemak, ikan, kacang, dan serat. Hindari makanan tinggi gula.
- Rutin berolahraga 30 menit, 5–7 kali per minggu
- Berhenti merokok
- Menjaga berat badan ideal
- Mengelola stres dengan baik
Stres emosional juga berperan dalam meningkatkan tekanan darah melalui aktivasi sistem saraf. Jika berlangsung kronis, kondisi ini dapat memperparah hipertensi.
dr. Luthfi menegaskan bahwa hipertensi sering tidak bergejala, namun dampaknya sangat serius. Oleh karena itu, pencegahan harus dimulai sejak dini.
“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Hipertensi memang bisa dikendalikan, tetapi jauh lebih baik jika tidak terjadi sejak awal,” tutupnya. (Rani)
