BANDUNG, unpas.ac.id – Prestasi membanggakan diraih oleh Chaterine Egha Vevayosa Ginting, lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas). Perempuan kelahiran Jambi, 31 Desember 2003 ini berhasil menyelesaikan studinya di Prodi Ilkom FISIP Unpas dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, yakni 4,00 pada Wisuda Unpas Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026.
Meski berhasil menjadi lulusan dengan IPK tertinggi, Egha memandang pencapaian tersebut bukanlah tujuan akhir. Baginya, IPK hanyalah angka yang harus diiringi dengan kualitas diri, integritas, kompetensi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Saya merasa bahagia dan bersyukur atas pencapaian ini. Namun, IPK tersebut juga menjadi pengingat bahwa saya harus lebih bertanggung jawab dalam dunia kerja dan kehidupan ke depan. IPK hanyalah angka, sedangkan kualitas diri tercermin dari integritas, kompetensi, dan manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain,” kata Egha kepada Minpas, Selasa (23/6/2026).
Motivasi terbesar Egha selama menempuh pendidikan datang dari kedua orang tuanya. Ia mengaku ingin membalas segala perjuangan orang tua yang telah memberikan dukungan penuh selama dirinya merantau dan berkuliah di Bandung.
“Sebagai salah satu bentuk balas budi kepada mereka, saya ingin menyelesaikan perkuliahan tepat waktu dan dengan hasil yang baik,” katanya.
Menurutnya, kunci utama yang membuatnya mampu mempertahankan prestasi akademik adalah konsistensi dan kedisiplinan. Ia selalu berusaha hadir di setiap perkuliahan dan tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang telah diperoleh.
“Absensi sangat penting. Saya juga selalu merasa haus ilmu. Setiap naik semester, saya tidak pernah merasa cukup dengan apa yang saya terima sehingga terus belajar dari mana saja,” ungkapnya.
Menariknya, selama semester satu hingga lima, Egha memilih untuk tidak mengikuti organisasi agar dapat fokus pada akademik. Namun pada semester enam, ia mulai keluar dari zona nyaman dengan menerima amanah sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) Periode 2024–2025.
Meski aktif berorganisasi, ia tetap memegang prinsip bahwa kegiatan kemahasiswaan tidak boleh mengganggu kewajibannya sebagai mahasiswa. Bahkan, ia mengaku tetap berusaha hadir di kelas meski sedang menjalankan berbagai program organisasi, magang, maupun tugas akademik.
“Mata kuliah adalah sesuatu yang sangat saya butuhkan. Saya merasa sayang jika harus melewatkan satu hari kuliah,” tuturnya.

Selama kuliah, Egha mengaku paling terkesan dengan mata kuliah Filsafat yang membentuk pola pikirnya menjadi lebih terbuka dan kritis. Selain itu, mata kuliah Islam Disiplin Ilmu juga memberinya pemahaman baru tentang nilai-nilai keislaman yang mendorong sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
Perjalanan akademiknya tidak selalu berjalan mulus. Salah satu masa tersulit yang pernah ia hadapi terjadi ketika sang kakek meninggal dunia di tengah pelaksanaan Ujian Akhir Semester pada 2023. Kehilangan sosok yang menjadi penyemangatnya itu sempat membuatnya terpuruk.
Namun, pesan terakhir sang kakek agar dirinya menyelesaikan pendidikan dengan penuh tanggung jawab menjadi kekuatan untuk bangkit dan terus berjuang hingga berhasil meraih hasil terbaik.
Dalam belajar, Egha memiliki metode yang cukup unik. Ia membuat rangkuman materi, kemudian merekamnya dalam bentuk audio untuk didengarkan kembali menjelang ujian.
“Melalui rekaman tersebut, saya bisa memahami dan menjawab pertanyaan ujian dengan bahasa saya sendiri,” jelasnya.
Selain aktif di organisasi, Egha juga terlibat dalam berbagai kegiatan volunteer serta bekerja sebagai talent dan content creator freelance. Menurutnya, pengalaman organisasi memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter, empati, kemampuan beradaptasi, serta memperluas relasi.
Ia juga menilai bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari capaian akademik maupun materi semata. Bagi Egha, kesuksesan sejati adalah kemampuan untuk terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi sesama.
“Kesuksesan bukan semata-mata dinilai dari banyaknya materi yang dimiliki, melainkan dari bagaimana hati mampu melahirkan empati yang tulus, pikiran mampu menghasilkan kebijaksanaan, dan tindakan mampu memberikan manfaat bagi sesama,” katanya.
Setelah lulus, Egha berencana melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi sembari berkarier. Ia memiliki cita-cita menjadi tenaga pendidik yang dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya di daerah-daerah yang belum mendapatkan akses pendidikan yang optimal.
“Tantangan besar yang ingin saya taklukkan berikutnya adalah berkontribusi dalam upaya mencerdaskan generasi muda. Saya ingin Indonesia memiliki banyak generasi berkualitas yang tidak egois dan memiliki empati untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik,” pungkasnya. (Rani)
