BANDUNG, unpas.ac.id – Nama Ir. H. Djuanda Kartawidjaja tidak hanya tercatat sebagai Perdana Menteri terakhir Republik Indonesia sebelum era Demokrasi Terpimpin, tetapi juga dikenang sebagai tokoh yang mengubah wajah Indonesia melalui Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957. Berkat gagasan besarnya, Indonesia berhasil memperjuangkan konsep negara kepulauan yang kemudian diakui dalam hukum internasional, memperkuat kedaulatan maritim bangsa hingga saat ini.

Di balik kiprahnya di panggung nasional, Djuanda memiliki kedekatan yang erat dengan Paguyuban Pasundan. Ia merupakan salah satu kader terbaik organisasi tersebut dan pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Paguyuban Pasundan periode 1929–1943. Tumbuh dalam lingkungan budaya Sunda yang kuat, Djuanda aktif dalam berbagai kegiatan pendidikan dan sosial kemasyarakatan yang diselenggarakan Paguyuban Pasundan.
Nilai-nilai luhur Pasundan seperti silih asih, silih asah, silih asuh, sabilulungan (gotong royong), dan ngamumule budaya menjadi bagian penting yang membentuk karakter kepemimpinannya. Nilai-nilai tersebut kemudian tercermin dalam dedikasinya mengabdi kepada bangsa dan negara.
Sebagai Perdana Menteri RI periode 1957–1959, Ir. H. Djuanda menggagas Deklarasi Djuanda yang menyatakan bahwa seluruh perairan di antara, di sekitar, dan yang menghubungkan pulau-pulau Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Deklarasi tersebut juga menetapkan prinsip penarikan batas laut sejauh 12 mil dari garis pangkal yang menghubungkan titik-titik terluar kepulauan Indonesia. Meski sempat mendapat penolakan dari sejumlah negara, perjuangan panjang Indonesia akhirnya membuahkan hasil ketika konsep negara kepulauan diakui dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).
Warisan pemikiran Djuanda menjadikan Indonesia memiliki wilayah laut sekitar 5,8 juta kilometer persegi dengan lebih dari 17 ribu pulau, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai negara maritim terbesar di dunia.
Nama Djuanda Diabadikan di Aula dan Taman di Universitas Pasundan

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdiannya, Universitas Pasundan mengabadikan nama Djuanda di lingkungan kampus. Salah satunya adalah Aula Mandala Saba Ir. H. Djuanda yang berada di Kampus II Unpas, Jalan Tamansari, Bandung. Aula yang diresmikan pada 20 Desember 2021 tersebut menjadi pusat berbagai kegiatan akademik, ilmiah, kemahasiswaan, hingga kegiatan organisasi yang mencerminkan semangat pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain itu, nama Djuanda juga diabadikan sebagai Taman Djuanda di kawasan Kampus II Unpas. Ruang terbuka hijau tersebut menghadirkan suasana yang nyaman bagi sivitas akademika untuk belajar, berdiskusi, berinteraksi, maupun beristirahat di tengah aktivitas perkuliahan.
Bagi Universitas Pasundan, pengabadian nama Ir. H. Djuanda bukan sekadar penamaan fasilitas kampus, melainkan bentuk penghormatan terhadap sosok negarawan yang menjunjung tinggi integritas, kecerdasan, kesederhanaan, dan semangat pengabdian.
Melalui warisan pemikiran serta nilai-nilai perjuangannya, Universitas Pasundan berharap generasi muda dapat terus meneladani dedikasi Ir. H. Djuanda dalam berkarya untuk kemajuan bangsa, menjaga persatuan, serta berkontribusi bagi Indonesia melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. (Rani)
