BANDUNG, unpas.ac.id – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendiktisaintek) Republik Indonesia Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D. menghadiri hari pertama kegiatan Maharaja Pasundan 2026 yang diselenggarakan Universitas Pasundan (Unpas), Selasa (15/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, Prof. Brian Yuliarto berpesan kepada mahasiswa baru Unpas agar tidak hanya menjadi generasi yang menyaksikan terwujudnya Indonesia Emas 2045, tetapi menjadi generasi yang berperan langsung dalam mewujudkannya.
“Kalian bukan generasi yang menyaksikan Indonesia Emas. Kalian yang mengerjakannya,” ujar Brian.
Mendiktisaintek menggambarkan perjalanan mahasiswa yang baru mulai memasuki perguruan tinggi pada 2026, menyelesaikan pendidikan sekitar 2030, hingga memasuki masa Indonesia Emas pada 2045. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting untuk memastikan Indonesia berada pada jalur yang tepat menuju momentum tersebut.
Prof. Brian juga menyoroti perubahan dunia pendidikan dan pekerjaan di tengah perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Menurutnya, kemampuan menghafal saja tidak lagi cukup karena mesin mampu menyimpan dan mengolah informasi dalam jumlah besar.
“Kalau mesin bisa menghafal lebih dari kita, kita harus menjadi manusia yang lebih dari penghafal. Ini bukan ancaman, tapi tantangan,” katanya.
Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk memiliki kemampuan memahami persoalan, berpikir kritis, berdiskusi, serta mengembangkan keahlian yang relevan.
“Seseorang yang mampu memahami dengan baik akan bisa menghadapi kompetitor-kompetitornya di masa depan nanti,” ujarnya.
Kampus Membuka Pintu, Mahasiswa Menentukan Perjalanan

Prof. Brian mengatakan perguruan tinggi memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri. Namun, seberapa jauh kesempatan tersebut dimanfaatkan sangat bergantung pada kemauan mahasiswa itu sendiri.
Ia juga menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi negeri maupun swasta memiliki kesempatan yang sama di dunia kerja.
“Di pasar kerja tidak ada yang bertanya negeri atau swasta. Mau lulusan kampus swasta atau negeri akan bekerja di tempat yang sama,” katanya.
Menurut Prof. Brian, setelah menyelesaikan pendidikan tinggi, hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah kemampuan dan keahlian yang dimiliki lulusan.
“Setelah lulus yang akan ditanyakan adalah bukan lulusan mana, tapi apa keahlian Anda,” ujarnya.
Di hadapan mahasiswa Unpas, Prof. Brian turut mengapresiasi motto universitas tersebut, yakni Pengkuh Agamana, Luhung Elmuna, Jembar Budayana.
Ia menilai motto tersebut menggambarkan pentingnya keseimbangan antara agama, ilmu pengetahuan, dan budaya.
“Ilmu tanpa pijakan nilai bisa berbahaya. Orang pintar yang tidak punya pegangan akan pintar untuk dirinya sendiri,” katanya.
Karena itu, Prof. Brian mengingatkan mahasiswa agar tetap berakar pada nilai agama yang diyakini, keluarga yang telah mengantarkan mereka hingga ke perguruan tinggi, serta tanah Pasundan dan Indonesia.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menerapkan semangat silih asah, silih asih, silih asuh. Semangat tersebut, kata dia, dapat diwujudkan melalui kebiasaan berdiskusi, saling mengoreksi, peduli terhadap sesama, serta membantu teman yang mengalami kesulitan.
“Tidak membiarkan teman-teman tertinggal. Harus bisa membimbing adik angkatan menjadi lebih baik,” katanya.
Mahasiswa Harus Mampu Belajar Mandiri

Prof. Brian menjelaskan bahwa pendidikan tinggi memiliki karakter berbeda dengan pendidikan sekolah. Jika di sekolah peserta didik lebih banyak dinilai dari kemampuan menyerap materi yang diajarkan, di perguruan tinggi mahasiswa dituntut mampu belajar secara mandiri.
“Kuliah bukan lagi sekolah lanjutan. Di sekolah dinilai bagaimana bisa menyerap apa yang diajarkan. Kalau kuliah dinilai bagaimana kalian bisa belajar sendiri,” ujarnya.
Kepada mahasiswa, ia menitipkan tiga kebiasaan yang perlu dibangun selama menjalani pendidikan di kampus, yakni berani bertanya, mampu mengatur waktu, dan memanfaatkan teknologi secara bijak.
“Bertanya, jangan malu untuk bertanya jika tidak tahu. Mengerjakan sesuatu di luar kelas harus bisa memanajemen waktu. Kemudian gunakan teknologi sebagai instrumen, alat, tapi bukan sebagai pengganti,” katanya.
Prof. Brian berharap lulusan perguruan tinggi tidak berhenti pada orientasi mencari pekerjaan. Ia mendorong mahasiswa untuk memiliki kontribusi lebih luas melalui penciptaan lapangan kerja dan pengembangan teknologi.
“Lulusan yang hebat adalah lulusan yang paling banyak memberi manfaat,” katanya.
Ia berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menciptakan teknologi. Mahasiswa juga diharapkan tidak sekadar mengeluhkan berbagai persoalan di Indonesia, melainkan ikut memperbaikinya melalui bidang keahlian masing-masing.
Menutup pesannya, Prof. Brian mengingatkan mahasiswa agar tidak takut menghadapi kegagalan selama menjalani proses pendidikan.
“Jangan khawatir jika gagal. Harus bangkit, coba lagi dan jangan pernah berhenti,” ucapnya. (Rani)
