BANDUNG, unpas.ac.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) membawa perubahan besar terhadap industri kreatif, termasuk bidang desain komunikasi visual (DKV). Meski AI mampu menghasilkan visual dalam waktu singkat, teknologi tersebut dinilai tidak serta-merta dapat menggantikan peran desainer.
Dosen Design Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (FISS) Universitas Pasundan (Unpas), Dr. Fadhly Abdilah, S.Sn., M.Ds., mengatakan bahwa kehadiran AI justru dapat menjadi alat bantu yang memperkuat proses kreatif seorang desainer.
“Menurut saya AI tidak bisa menggantikan posisi desainer. Dulu desainer dianggap sebagai maker, hanya sebagai pembuat visual. Dengan AI, desainer bisa lebih cepat membuat alternatif, membuat varian, dan lain-lain,” ujar Fadhly.
Menurutnya, hal yang menjadi semakin penting di tengah perkembangan AI adalah kemampuan manusia yang tidak sekadar berkaitan dengan keterampilan teknis. Desainer perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, memecahkan masalah, memahami manusia, serta mengetahui alasan di balik sebuah desain dibuat.
Fadhly menilai AI dapat menjadi ancaman maupun peluang, tergantung bagaimana desainer menyikapi teknologi tersebut. AI akan menjadi ancaman apabila seorang desainer hanya mengembangkan kemampuan yang mudah diotomatisasi oleh mesin, seperti menggambar, membuat alternatif visual, serta sekadar memilih jenis huruf dan warna.
Sebaliknya, AI dapat menjadi alat bantu yang sangat kuat apabila digunakan secara kritis dalam proses kreatif.
“AI bisa menjadi alat bantu proses kreatif yang sangat kuat jika kita menggunakannya secara kritis,” katanya.
Lima Kompetensi Penting Desainer di Era AI
Wakil Dekan II FISS Unpas ini menyebut terdapat lima kompetensi yang perlu dimiliki desainer di tengah perkembangan teknologi, khususnya AI.
Pertama, conceptual thinking atau kemampuan berpikir konseptual. Desainer tidak hanya perlu memahami mengapa sebuah desain dibuat, tetapi juga bagaimana desain tersebut dikembangkan untuk menjawab kebutuhan tertentu.
Kedua, problem solving. Menurut Fadhly, industri tidak hanya membutuhkan kemampuan menghasilkan visual, tetapi juga solusi terhadap suatu permasalahan.
“Mahasiswa harus mampu memecahkan permasalahan, karena di industri yang dibeli itu bukan visual saja, tapi juga solusi,” jelasnya.
Ketiga, kemampuan desain secara teknis, seperti ilustrasi, fotografi, branding, dan berbagai keterampilan visual lainnya. Kemampuan teknis tersebut tetap penting sebagai fondasi bagi seorang desainer.
Keempat, human and cultural insight, yakni kemampuan memahami manusia dan budaya. Menurut Fadhly, aspek tersebut menjadi salah satu keunggulan manusia yang tidak dapat begitu saja digantikan AI.
Desainer perlu memahami konteks lingkungan, karakter manusia, serta persoalan sosial dan budaya sehingga dapat menghasilkan solusi desain yang relevan.
Kelima, AI literacy atau literasi AI. Desainer perlu memahami cara menggunakan AI, memanfaatkan berbagai kemampuannya, serta menyusun prompt dengan baik.
“Lima hal tadi menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki dalam perkembangan teknologi, khususnya perkembangan AI,” ujar Fadhly.
AI sebagai Alat Bantu, Bukan Penentu Kreativitas
Fadhly juga menekankan pentingnya membedakan antara menyerahkan seluruh proses kreatif kepada AI dan menjadikan AI sebagai alat bantu.
Jika seluruh proses diserahkan kepada AI, kontribusi kreatif manusia menjadi sangat kecil. Misalnya, seseorang hanya memberikan perintah sederhana kepada AI untuk membuat sebuah poster tanpa melakukan riset maupun memahami persoalan yang hendak diselesaikan.
Berbeda apabila AI digunakan sebagai bagian dari proses kreatif. Desainer dapat terlebih dahulu melakukan riset, menganalisis permasalahan, menentukan solusi, kemudian memanfaatkan AI untuk menghasilkan berbagai alternatif desain.
Alternatif tersebut selanjutnya dapat dipilih, dimodifikasi, diuji, dan dikembangkan melalui proses trial and error hingga desainer mendapatkan keputusan kreatif yang paling sesuai.
“AI itu bukan alat penentu kreativitas atau otak kreativitas. AI hanya sekadar membantu dan manusia sendiri yang harus menentukan kreativitas itu,” tegasnya.
Dalam menghadapi perkembangannya, DKV Unpas mendorong mahasiswa untuk mengenal dan menggunakan AI. Namun, mahasiswa juga diarahkan agar tidak menjadikan AI sebagai satu-satunya tumpuan dalam proses berkarya.
“Kami mendorong mahasiswa untuk mengenal AI, menggunakan AI, tapi bukan bergantung pada AI,” kata Fadhly.
Menurutnya, perkembangan AI tidak seharusnya dilihat sebagai persaingan antara manusia dan teknologi. Kemampuan manusia dalam memecahkan masalah, memahami konteks, dan menyampaikan pesan akan tetap memiliki peran penting dalam industri kreatif.
Kehadiran AI, lanjut Fadhly, pada akhirnya menjadi tantangan sekaligus peluang bagi dunia pendidikan desain. Tantangan tersebut perlu dijawab dengan membekali mahasiswa tidak hanya dengan kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, pemahaman terhadap manusia dan budaya, serta kecakapan memanfaatkan teknologi.
DKV FISS Unpas diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang kreatif, kritis, adaptif, serta mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab. (Rani)
