BANDUNG, unpas.ac.id – Universitas Pasundan (Unpas) melalui Divisi Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran menyelenggarakan Workshop Pengimbasan Pembelajaran Transformatif bagi Dosen di Lingkungan Unpas melalui Zoom pada Rabu (12/8/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri atas pimpinan universitas, pimpinan fakultas, pimpinan program studi, pimpinan lembaga, pimpinan divisi, serta dosen di lingkungan Unpas.
Workshop ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Ketua Lembaga Penjaminan Mutu Internal Unpas Assoc. Prof. Dr. Yusep Ikrawan, M.Sc., Ph.D., Ketua Divisi Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran Unpas Dr. Hj. Mimi Halimah, S.Pd., M.Si. serta Sekretaris Divisi Kurikulum dan Inovasi Pembelajaran Unpas Dr. Yellianty, S.Si., M.Si.
Wakil Rektor Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, Alumni, Agama, dan Budaya (Belmawabud) Universitas Pasundan, Prof. Dr. H. Cartono, S.Pd., M.Pd., M.T membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya penguatan kualitas pembelajaran di perguruan tinggi sebagai salah satu respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi lulusan di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Prof. Cartono menyoroti peningkatan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang berasal dari lulusan perguruan tinggi. Berdasarkan data yang disampaikannya, pada Februari 2025 angka tersebut mencapai 6,23 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada angka 5,25 persen. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari tanggung jawab institusi pendidikan tinggi dan dosen sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan proses pembelajaran.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa proses pembelajaran mampu membekali mahasiswa bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan kemampuan untuk beradaptasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta dunia kerja,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Cartono menjelaskan sejumlah tantangan yang melatarbelakangi pentingnya penerapan pembelajaran transformatif. Salah satunya adalah era disrupsi teknologi yang menghadirkan kompleksitas tantangan global dan menuntut sumber daya manusia yang adaptif, berdaya saing, serta mampu memberikan kontribusi nyata.
Di tengah masifnya pemanfaatan kecerdasan buatan generatif, perguruan tinggi juga perlu memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai sarana penguatan pembelajaran, bukan justru melemahkan kemampuan berpikir mahasiswa. Penggunaan AI yang tidak diimbangi dengan pendekatan pembelajaran reflektif berpotensi mendorong cognitive laziness atau kemalasan kognitif, sekaligus melemahkan daya nalar kritis dan kemandirian intelektual mahasiswa.
Tantangan lainnya adalah kesenjangan kompetensi lulusan. Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, keberhasilan lulusan tidak cukup ditentukan oleh penguasaan konten, tetapi juga oleh kemampuan belajar sepanjang hayat, fleksibilitas, adaptabilitas, komunikasi, pemecahan masalah, dan kemampuan merespons realitas sosial yang kompleks.
Dalam konteks tersebut, Transformative Learning atau pembelajaran transformatif menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk dikembangkan di lingkungan Universitas Pasundan. Pembelajaran transformatif tidak hanya berorientasi pada penambahan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk mengubah cara pandang, menguji asumsi, merefleksikan nilai, serta mengembangkan kerangka berpikir baru dalam memahami dan menyelesaikan persoalan.
Penerapan pembelajaran transformatif juga dinilai selaras dengan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional, penguatan Kampus Berdampak, serta pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pusat keunggulan intelektual, tetapi juga mampu berperan sebagai katalisator perubahan sosial menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Bagi mahasiswa, penerapan transformative learning diharapkan mampu membentuk pribadi yang lebih kritis, reflektif, mandiri, terbuka terhadap berbagai perspektif, serta mampu menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan kehidupan nyata. Mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai materi pembelajaran, tetapi juga mampu mengembangkan cara berpikir yang lebih matang, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan menerapkan pengetahuan untuk menghadapi berbagai persoalan di masyarakat.
Sementara bagi dosen, pembelajaran transformatif mendorong perubahan peran dari sekadar penyampai materi menjadi fasilitator dan pembimbing proses belajar mahasiswa. Dosen diharapkan mampu menciptakan pembelajaran yang dialogis, kontekstual, reflektif, dan berorientasi pada pengalaman belajar yang bermakna. Pada saat yang sama, dosen perlu terus melakukan evaluasi dan inovasi terhadap metode pembelajaran sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan perkembangan zaman.
Dalam kegiatan ini, para peserta memperoleh penguatan mengenai berbagai aspek pembelajaran transformatif yang meliputi pemahaman, perencanaan, pelaksanaan, hingga asesmen (assessment) Transformative Learning. Materi dirancang untuk memberikan pemahaman sekaligus membekali dosen agar mampu mengimplementasikan pendekatan pembelajaran transformatif dalam proses pendidikan di lingkungan Unpas.
Melalui workshop ini, Unpas menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat inovasi pembelajaran dan meningkatkan kapasitas dosen dalam menghadirkan pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman. Transformative Learning diharapkan menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pembelajaran yang mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kritis, adaptif, reflektif, berkarakter, dan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Penulis : Dadan Soekardan (Anggota Divisi Humas dan Keprotokolan Unpas)
Editor : Nurrani Rusmana
