BANDUNG, unpas.ac.id – Kemenangan Persib Bandung atas PSM Makassar dengan skor 2-1 pada Minggu (17/5/2026) malam bukan hanya tentang tambahan tiga poin di klasemen. Lebih dari itu, Ketua Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Pasundan (Unpas), Dr. Ardi Gunardi, S.E., M.Si. menyebut pertandingan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah organisasi olahraga mampu menjaga eksistensi, loyalitas publik, dan relevansi di tengah kerasnya persaingan sepak bola modern.
Di balik sorak tribun dan euforia kemenangan Persib, terdapat proses panjang yang berkaitan dengan kultur organisasi, tata kelola, identitas kolektif, hingga kemampuan menjaga kepercayaan publik dalam jangka panjang. Dalam perspektif manajemen olahraga modern, kemenangan bukan semata hasil akhir di lapangan, melainkan cerminan dari fondasi organisasi yang kuat.
Fenomena ini pernah dijelaskan akademisi olahraga Bill Gerrard (2004) saat meneliti dominasi Manchester United. Gerrard menyebut klub besar tidak hanya dibangun oleh pemain berkualitas, tetapi oleh kemampuan menciptakan sustainable competitive advantage atau keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Siklus itu bekerja melalui kemenangan yang melahirkan loyalitas, loyalitas menghasilkan dukungan ekonomi, dan kekuatan finansial kembali memperkuat organisasi untuk terus menang.
Apa yang terjadi pada Kemenangan Persib hari ini menunjukkan pola yang serupa. Persib tidak lagi hanya dipandang sebagai klub sepak bola, tetapi telah berkembang menjadi simbol identitas sosial dan kebanggaan masyarakat Jawa Barat. Ketika Persib bertanding, yang bergerak bukan hanya sebelas pemain di atas lapangan, melainkan juga emosi kolektif jutaan bobotoh yang merasa memiliki ikatan batin dengan klub tersebut.
Dosen FEB Unpas ini juga menilai kekuatan utama Persib justru terletak pada keberhasilannya menjaga “sense of belonging” di tengah modernisasi industri sepak bola.
Menurut Ardi yang juga bobotoh Persib ini, loyalitas suporternya bukan hubungan transaksional biasa antara klub dan penonton, melainkan hubungan emosional yang dibangun bertahun-tahun melalui identitas budaya dan kedekatan sosial.
“Persib memiliki modal sosial yang sangat kuat. Tidak semua klub bisa membuat suporternya merasa menjadi bagian dari identitas klub. Ini yang membuat Persib tetap besar, bahkan ketika menghadapi tekanan kompetisi modern,” ujarnya.
Dalam ilmu manajemen modern, organisasi yang kuat bukan sekadar organisasi dengan modal besar, tetapi organisasi yang mampu menciptakan rasa memiliki di dalam komunitasnya. Persib dinilai berhasil menjaga hubungan emosional itu melalui kultur lokal yang masih kuat melekat dalam klub.
Bandung dan Persib tumbuh dalam hubungan yang unik. Ada memori kolektif, romantisme tribun, solidaritas sosial, hingga kebanggaan daerah yang menjadikan Persib lebih dari sekadar institusi olahraga. Hal inilah yang membuat basis dukungan Persib tetap hidup, bahkan ketika klub sedang tidak berada dalam performa terbaik.
Ardi menjelaskan, banyak klub sepak bola modern gagal mempertahankan loyalitas jangka panjang karena terlalu fokus pada industrialisasi dan bisnis semata. Klub berubah menjadi korporasi besar, tetapi perlahan kehilangan kedekatan dengan komunitas asalnya.
“Modernisasi memang penting karena sepak bola sekarang adalah industri global. Tapi klub juga harus hati-hati agar tidak kehilangan akar sosialnya. Kekuatan terbesar Persib justru ada pada kedekatan emosional dengan masyarakat,” katanya.
Fenomena tersebut pernah terjadi di Inggris ketika sebagian pendukung Manchester United mendirikan FC United of Manchester sebagai bentuk protes terhadap perubahan sepak bola yang dianggap terlalu korporatis. Fans merasa klub mulai menjauh dari identitas komunitasnya sendiri.
Sejauh ini, Persib dinilai masih mampu menjaga keseimbangan itu. Klub terus bergerak menjadi organisasi profesional modern, aktif secara digital, dan berkembang secara bisnis, tetapi tetap mempertahankan kedekatan dengan bobotoh sebagai fondasi utamanya.

Dalam perspektif manajemen organisasi, kultur menjadi faktor penting yang menentukan daya tahan sebuah institusi saat menghadapi tekanan. Klub yang hanya bertumpu pada kekuatan uang cenderung rapuh ketika prestasi menurun. Sebaliknya, klub dengan identitas kuat biasanya lebih resilien karena ditopang loyalitas sosial yang sudah mengakar.
Atmosfer publik terhadap Persib menjadi bukti nyata hubungan tersebut. Bahkan ketika hasil pertandingan tidak selalu sesuai harapan, energi dukungan suporternya tetap hidup. Persib tidak hanya menjual pertandingan sepak bola, tetapi juga pengalaman emosional yang membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari cerita besar klub tersebut.
Karena itu, tantangan terbesar sepak bola modern bukan hanya memenangkan pertandingan, melainkan menjaga identitas di tengah arus industri hiburan global. Bagaimana klub tetap profesional tanpa kehilangan akar komunitasnya, dan bagaimana bisnis berkembang tanpa mengubah suporter menjadi sekadar konsumen.
Persib saat ini tampak berada di jalur yang menarik: tumbuh sebagai klub modern tanpa sepenuhnya tercerabut dari kultur lokalnya. Kemenangan atas PSM Makassar menjadi pengingat bahwa organisasi besar tidak dibangun hanya oleh uang atau strategi jangka pendek, tetapi oleh kepercayaan yang dipelihara dalam waktu panjang.
“Dan di Bandung, kepercayaan itu masih hidup bersama nama Persib,” pungkas Ardi.
Penulis: Ketua Program Studi Manajemen FEB Unpas, Dr. Ardi Gunardi, S.E., M.Si.
Editor: Nurrani Rusmana
Foto: Instagram @persib
