BANDUNG, unpas.ac.id — Seminar Nasional Nyemah Atikan Penyiaran bertajuk “Gen Z Media Habits: A Pancagatra Perspective” kolaborasi Universitas Pasundan (Unpas) bersama Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat digelar di Aula Mandalasaba Ir. H. Djuanda, Kampus II Unpas Tamansari, Rabu (13/5/2026).

Hadir Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, PPM, dan Dana Usaha Unpas Prof. Dr. H. M. Budiana, S.I.P., M.Si., Wakil Ketua KPID Jawa Barat Dr. Almadina Rakhmaniar, S.Psi., M.I.Kom., Sekretaris Diskominfo Provinsi Jawa Barat Bayu Rakhmana, S.STP., M.H., Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat Rafael Situmorang, S.H., M.H. serta para peserta yang merupakan mahasiswa Unpas.
Seminar ini juga menghadirkan narasumber Tenaga Profesional Bidang Sosial Budaya Lemhanas RI Dr. Tantri Relatami, S.Sos., M.I.Kom., CRP. dan Ketua KPID Jawa Barat Dr. Adiyana Slamet, S.IP., M.Si. dengan moderator Koordinator Bidang Kelembagaan KPID Jawa Barat Dr. Lukman Munawar F., S.IP., M.Si.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, PPM, dan Dana Usaha Unpas Prof. Dr. H. M. Budiana, S.I.P., M.Si. menilai media sosial menghadirkan dinamika baru dalam demokrasi. Menurutnya, media sosial kini berupaya menjadi salah satu pilar demokrasi yang dimanfaatkan oleh berbagai kepentingan.
“Tanpa media sosial, orang tidak terlalu tahu permasalahan sosial maupun hukum. Maka dari itu, kita harus bijak terhadap fenomena yang berkembang saat ini,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua KPID Jawa Barat Dr. Almadina Rakhmaniar, S.Psi., M.I.Kom. mengatakan seminar tersebut bukan sekadar forum diskusi media, tetapi juga ikhtiar bersama untuk membangun kecerdasan bermedia di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z.

Dosen Ilkom Unpas ini juga menjelaskan, Gen Z merupakan generasi digital native yang tumbuh bersama media berbasis internet, sementara media digital saat ini belum sepenuhnya memiliki regulasi yang kuat.
“Media berbasis internet memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola pikir, pola kritis, dan perilaku masyarakat, khususnya Gen Z sebagai kelompok penduduk terbesar di Indonesia,” katanya.
Menurut Almadina, media penyiaran saat ini menghadapi dua sisi sekaligus, yakni peluang kreatif dan tantangan besar. Tantangan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hoaks dan masifnya penyebaran informasi, tetapi juga menyangkut aspek ideologi, sosial, politik, ekonomi, hingga kebudayaan bangsa.
Ia menambahkan, perspektif pancagatra menjadi penting karena dinamika sosial saat ini turut menentukan ketahanan bangsa, tidak hanya aspek fisik semata.
“Kampus menjadi ruang strategis dalam melahirkan generasi penerus bangsa. Karena itu, kolaborasi KPID dan Unpas menjadi sangat penting,” ungkapnya.

Sekretaris Diskominfo Provinsi Jawa Barat Bayu Rakhmana, S.STP., M.H., menyampaikan bahwa masyarakat saat ini hidup di tengah transformasi digital yang berlangsung sangat cepat.
Menurutnya, digitalisasi tidak hanya mengubah teknologi distribusi konten, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat memaknai informasi.
“Melalui algoritma dan platform OTT, berbagai nilai asing bisa masuk. Jika tidak difilter dengan baik, hal ini berpotensi mengikis jati diri bangsa,” ujarnya.
Bayu menegaskan, penyiaran harus ditempatkan sebagai instrumen strategis dalam menjaga ketahanan nasional, khususnya melalui aspek pancagatra.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Jawa Barat Rafael Situmorang, S.H., M.H. menilai revisi Undang-Undang Penyiaran menjadi kebutuhan mendesak di masa depan. Ia menyoroti derasnya arus informasi yang belum jelas kebenarannya di media sosial.
“Media sosial bisa membangun realitas dan citra. Saya berharap ada regulasi agar media sosial dan media mainstream bisa selaras sehingga informasinya bermanfaat bagi semua,” katanya.

Dalam pemaparannya, Tenaga Profesional Bidang Sosial Budaya Lemhanas RI Dr. Tantri Relatami, S.Sos., M.I.Kom., CRP. menjelaskan bahwa ruang digital kini menjadi arena utama pertarungan wacana, nilai, dan ideologi.
Ia menyebut digitalisasi telah menciptakan ekosistem tanpa batas (borderless ecosystem) yang membuat ketahanan informasi menjadi isu penting dalam ketahanan nasional.
“Penyiaran harus ditempatkan sebagai instrumen strategis dalam menjaga ketahanan nasional, khususnya pada aspek Asta Gatra. Penyiaran memiliki peran penting dalam membentuk opini publik, memperkuat nilai kebangsaan, serta menjadi benteng terhadap infiltrasi nilai-nilai yang berpotensi merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Sedangkan Ketua KPID Jawa Barat Dr. Adiyana Slamet, S.IP., M.Si. memaparkan bahwa ketahanan nasional merupakan keterkaitan integratif dari lima gatra, yakni ideologi, ekonomi, politik, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
“Lemahnya satu gatra akan berdampak terhadap gatra lainnya sehingga penguatan literasi media dan kesadaran bermedia menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan nasional di era digital,” pungkas Adiyana Slamet yang juga Ketua IKA FISIP Unpas.

Terselenggaranya seminar ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan literasi media di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa, agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menyikapi arus informasi digital.
Selain itu, seminar ini juga diharapkan mampu memperkuat pemahaman mengenai pentingnya penyiaran sebagai instrumen strategis dalam menjaga ketahanan nasional, membangun nilai-nilai kebangsaan, serta menangkal pengaruh negatif yang dapat mengganggu kehidupan berbangsa dan bernegara di era digital yang tanpa batas.
Melalui kegiatan ini, kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan lembaga penyiaran juga diharapkan dapat terus terjalin dalam menciptakan ekosistem media yang sehat, edukatif, dan bertanggung jawab. (Rani)
