BANDUNG, unpas.ac.id – Sejumlah warga Bandung belakangan ini merasakan suhu udara yang lebih dingin dibanding biasanya, terutama pada dini hari hingga pagi. Menanggapi fenomena tersebut, Guru Besar Bidang Teknologi Pengelolaan Lingkungan Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Universitas Pasundan (Unpas), Prof. Dr. Ir. H. Lili Mulyatna, M.T., menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan fenomena alamiah yang lazim terjadi pada awal musim kemarau dan bukan merupakan anomali cuaca.
Menurut Prof. Lili, terdapat dua faktor utama yang menyebabkan suhu udara di Bandung terasa lebih dingin. Pertama, minimnya tutupan awan selama musim kemarau membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan ke atmosfer pada malam hari. Kedua, pengaruh angin muson Australia yang membawa massa udara dingin dan kering ke wilayah selatan khatulistiwa, termasuk Jawa Barat.
“Topografi Bandung yang berada di kawasan cekungan dataran tinggi juga memperkuat akumulasi udara dingin, terutama ketika kecepatan angin relatif rendah,” jelasnya.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara di Bandung pada Juni hingga awal Juli 2026 berkisar antara 17,4 hingga 20,2 derajat Celsius. Di beberapa kawasan seperti Ciumbuleuit, suhu bahkan tercatat lebih rendah. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga Agustus 2026 seiring puncak musim kemarau.
Prof. Lili menegaskan bahwa mekanisme terjadinya udara dingin tersebut merupakan fenomena yang berulang setiap tahun. Namun, pada 2026, pengaruh El Niño diduga memperkuat kondisi kemarau sehingga udara terasa lebih dingin dibanding biasanya.
“Secara mekanisme tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yang membedakan tahun ini adalah El Niño yang membuat musim kemarau lebih kering dan lebih panjang sehingga pendinginan pada malam hingga dini hari terasa lebih ekstrem,” ujarnya.
Perbedaan suhu yang cukup tajam antara pagi dan siang hari juga dinilai sebagai kondisi yang normal pada musim kemarau. Saat siang hari, langit yang cerah memungkinkan radiasi matahari langsung memanaskan permukaan bumi sehingga suhu dapat mencapai 28–30 derajat Celsius. Sebaliknya, pada malam hari panas tersebut kembali dilepaskan ke atmosfer tanpa tertahan awan sehingga suhu turun drastis hingga berkisar 14–17 derajat Celsius menjelang pagi.
“Langit cerah ibarat pintu yang terbuka dua arah. Siang hari panas masuk dengan maksimal, sedangkan malam hari panas keluar dengan cepat. Inilah yang menyebabkan fluktuasi suhu harian di Bandung cukup ekstrem selama musim kemarau,” terang Prof. Lili.
Tidak Berkaitan Langsung dengan Perubahan Iklim
Terkait anggapan bahwa udara dingin merupakan dampak perubahan iklim, Prof. Lili menjelaskan bahwa BMKG menyatakan fenomena bediding merupakan siklus musiman tahunan yang dipicu oleh kondisi atmosfer normal, yakni minimnya tutupan awan dan pengaruh angin muson Australia.
Meski demikian, ia mengakui terdapat pandangan dari sebagian pakar yang menilai perubahan iklim global dapat memengaruhi intensitas fenomena tersebut melalui perubahan pola angin muson. Namun hingga saat ini, BMKG belum menyatakan hal tersebut sebagai kesimpulan resmi.
Udara Dingin Tidak Berarti Lebih Bersih
Prof. Lili juga mengingatkan bahwa udara yang terasa dingin bukan berarti kualitas udara menjadi lebih baik. Justru pada musim kemarau, kondisi atmosfer yang stabil membuat polutan, terutama partikel halus PM2.5, lebih mudah terperangkap di dekat permukaan tanah.
Selain itu, minimnya hujan menyebabkan proses pembersihan alami terhadap polutan tidak terjadi. Pengaruh El Niño yang membuat musim lebih kering juga berpotensi memperburuk kondisi tersebut.
“Udara terasa segar karena suhunya rendah, tetapi belum tentu lebih bersih. Justru masyarakat perlu tetap waspada terhadap paparan polusi, khususnya pada jam sibuk pagi dan sore,” katanya.
Waspada Dampak Kesehatan
Fenomena udara dingin juga membawa sejumlah dampak terhadap kesehatan masyarakat. Perubahan suhu yang cukup tajam dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), memperburuk kondisi penderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hipertensi, maupun penyakit jantung. Udara yang lebih kering juga meningkatkan risiko dehidrasi.
Di sisi lingkungan, musim kemarau yang lebih panjang berpotensi memicu berkurangnya ketersediaan air bersih, menurunkan produktivitas pertanian, serta meningkatkan konsentrasi debu dan polusi udara.
Oleh karena itu, Prof. Lili mengimbau masyarakat untuk mengenakan pakaian hangat saat dini hari hingga pagi, mengonsumsi makanan dan minuman hangat, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Masyarakat juga disarankan memantau informasi resmi BMKG mengenai perkembangan cuaca dan puncak musim kemarau agar dapat menyesuaikan aktivitas sehari-hari.
Menjadi Kajian Penting Teknik Lingkungan
Dari perspektif Teknik Lingkungan, fenomena udara dingin dipelajari melalui berbagai aspek, mulai dari meteorologi dan klimatologi terapan, kualitas udara, hidrologi, iklim mikro perkotaan, hingga dampaknya terhadap ekosistem dan pertanian.
Menurut Prof. Lili, kajian tersebut penting untuk memahami keterkaitan antara kondisi atmosfer, kualitas udara, ketersediaan air, serta aktivitas manusia sehingga dapat menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan mitigasi, termasuk pengelolaan tata ruang perkotaan dan strategi konservasi air pada musim kemarau.
“Fenomena ini bukan sekadar perubahan cuaca biasa. Dari sudut pandang Teknik Lingkungan, kami mempelajari bagaimana dampaknya terhadap kualitas udara, sumber daya air, dan keberlanjutan lingkungan perkotaan agar dapat dirumuskan langkah-langkah mitigasi yang tepat,” pungkasnya. (Rani)
