BANDUNG, unpas.ac.id – Tingginya beban kerja, tekanan emosional, serta meningkatnya tuntutan pelayanan yang dihadapi tenaga kesehatan dapat memengaruhi kesejahteraan tenaga kesehatan dan berdampak pada kualitas pelayanan kepada pasien.
Maka dari itu, RSUD Bandung Kiwari bekerja sama dengan Universitas Pasundan (Unpas) melalui Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) menyelenggarakan seminar daring (webinar) berskala nasional bertajuk “Resiliensi dalam Pelayanan Kesehatan: Membangun Ketangguhan Diri Menghadapi Tantangan, Perubahan, dan Ketidakpastian dalam Pelayanan Kesehatan”, Sabtu (10/10/2026).
Webinar yang termasuk ke dalam rangkaian Dies Natalis ke-66 Unpas ini merupakan upaya untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan tenaga kesehatan dalam membangun resiliensi, baik pada tingkat individu maupun organisasi pelayanan kesehatan. Kemampuan tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam menghadapi dinamika pekerjaan, beradaptasi terhadap perubahan, serta menjaga mutu dan keselamatan pasien.

Ketua Pelaksana Webinar, dr. Susanti, M.Kes., AIFO-K. mengatakan kegiatan yang diikuti sebanyak 457 peserta ini merupakan wujud kolaborasi institusi pendidikan dan kesehatan. Ia berharap sinergi ini terus berkembang dan meningkatkan pelayanan kesehatan.
“Mari jaga kesehatan mental kita karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Tidak harus selalu kuat setiap saat, mari terus belajar dan bertumbuh,” pesannya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Unpas Prof. Dr. Wiryawan Permadi, dr., Sp.OG(K) menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika lingkungan kerja yang menuntut adaptasi secara cepat.
“Pelayanan kesehatan menghadapi tantangan yang cukup besar, terutama dengan perkembangan teknologi yang menuntut tenaga kesehatan untuk terus beradaptasi. Di sisi lain, lingkungan pelayanan kesehatan juga sangat dinamis dan bergerak serba cepat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dokter dan tenaga kesehatan dituntut untuk tetap memberikan pelayanan yang profesional dan berkualitas di tengah berbagai tekanan pekerjaan, mulai dari keterbatasan sumber daya, kelelahan fisik dan mental, hingga tekanan emosional, konflik komunikasi, serta potensi kesalahan dalam pelayanan.
“Oleh karena itu, ketangguhan tenaga kesehatan tidak boleh hanya dipahami sebagai kemampuan individu untuk bertahan dalam situasi sulit, tetapi juga harus menjadi bagian dari kapasitas organisasi. Penting untuk memastikan bahwa hak dan keselamatan tenaga kesehatan terlindungi, sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang aman, suportif, serta bebas dari kekerasan dan diskriminasi,” ungkapnya.
Menurutnya, penguatan resiliensi perlu menjadi perhatian bersama agar tenaga kesehatan mampu menghadapi berbagai tantangan tanpa mengabaikan kesejahteraan diri maupun kualitas pelayanan kepada pasien.
Rektor Unpas dalam sambutannya turut menyampaikan [isi sambutan mengenai dukungan universitas terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan kompetensi tenaga kesehatan, atau kerja sama lintas institusi].
Tiga Perspektif Penting Membangun Resiliensi Nakes

Webinar ini menghadirkan tiga narasumber yang membahas resiliensi dalam pelayanan kesehatan dari perspektif psikologis, komunikasi, serta etik dan hukum.
Pemaparan pertama disampaikan oleh Dr. dr. Natalia Widia Rahanjati, Sp.KJ., Subsp.F(K)., M.Pd., yang membahas resiliensi mental tenaga kesehatan. Materi ini mengangkat pentingnya ketangguhan mental dalam menghadapi tekanan pekerjaan dan berbagai tantangan di lingkungan pelayanan kesehatan.
Selanjutnya, dr. Bernadetta Echalaksmi Dewi Y.S., M.Mrs., M.H., FISQua, menyampaikan materi mengenai komunikasi efektif di bawah tekanan pelayanan kesehatan. Pembahasan ini menyoroti pentingnya komunikasi yang efektif dalam mendukung koordinasi, menjaga profesionalisme, dan meminimalkan risiko kesalahan dalam pelayanan.
Sementara itu, Dr. dr. Beni Satria, M.Kes., S.H., M.H., CParb., CPLC., M.C., FISQua, membahas keamanan tenaga kesehatan dalam bertugas serta perlindungan etik dan hukum bagi tenaga kesehatan. Materi tersebut memberikan perspektif mengenai pentingnya pemahaman terhadap aspek etik dan hukum dalam menjalankan tugas secara profesional.

Melalui webinar ini, peserta peserta yang terdiri dari tenaga kesehatan, baik medis maupun nonmedis, akademisi, serta masyarakat umum yang memiliki perhatian terhadap isu kesehatan diharapkan mampu memahami berbagai strategi untuk membangun resiliensi, meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan, serta menerapkan prinsip-prinsip ketangguhan dalam praktik pelayanan kesehatan. (Rani)