BANDUNG, unpas.ac.id – Delegasi Pasundan Debate Club (PDC) Fakultas Hukum Universitas Pasundan (Unpas), yang terdiri atas Nisa Uswatun Hasanah, Najwa Putri Salsabilla, dan Rifa Syahira Kalma, berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Sultan Jawara Law Festival (SJLF) III 2026 yang diselenggarakan di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten.
Perjalanan tim tidak berlangsung mudah. Setelah menghadapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada babak semifinal, delegasi PDC harus melanjutkan perjuangan dalam pertandingan perebutan juara ketiga. Dengan semangat dan strategi yang telah dipersiapkan, tim berhasil mengalahkan Universitas Trisakti dan mengamankan posisi ketiga dalam kompetisi tersebut.
Bagi Nisa Uswatun Hasanah, pencapaian ini menjadi pengalaman yang melampaui ekspektasi awalnya. Sebagai mahasiswa semester 3 yang baru pertama kali mengikuti kompetisi debat hukum nasional, ia merasa bersyukur dan bangga atas hasil yang diraih bersama timnya.
“Juara 3 bukan hanya soal peringkat, tetapi bukti bahwa proses belajar yang saya jalani selama ini tidak sia-sia,” ungkap Nisa.
Ia menilai, pengalaman tersebut menjadi kesempatan berharga untuk mengukur kemampuan sekaligus memahami pentingnya proses belajar dalam menghadapi kompetisi tingkat nasional.

Sebelum mengikuti kompetisi, delegasi PDC menjalani serangkaian persiapan, mulai dari pembagian peran pembicara, riset mendalam terhadap mosi debat, penyusunan naskah argumentasi, hingga latihan dan simulasi debat secara rutin. Tim juga memperoleh arahan dari para mentor untuk mempertajam argumentasi serta mengidentifikasi kelemahan dalam penyusunan materi.
Dalam penyusunan argumen, tim membagi pendekatan ke dalam aspek filosofis, yuridis-normatif, dan sosiologis. Struktur argumentasi juga disusun secara sistematis menggunakan metode AREL (Assertion, Reasoning, Evidence, Link) agar setiap pendapat memiliki dasar yang jelas dan relevan dengan isu yang diperdebatkan.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi adalah materi mosi yang mayoritas berkaitan dengan pembahasan perkuliahan semester 6 hingga 8, sedangkan seluruh anggota delegasi masih berada di semester 3. Kondisi tersebut menuntut mereka untuk mempelajari berbagai konsep hukum yang belum banyak diperoleh di bangku perkuliahan.
Untuk mengatasinya, para delegasi melakukan riset melalui jurnal dan literatur hukum, mempelajari doktrin para ahli, serta mengidentifikasi argumen yang berpotensi digunakan oleh kedua pihak dalam debat. Diskusi bersama mentor dan latihan berulang juga menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman mereka.
Rifa Syahira Kalma mengakui bahwa persiapan kompetisi menguras tenaga dan pikiran. Namun, rasa ingin tahu serta keinginan untuk terus berkembang membuatnya mampu menikmati setiap tahapan proses tersebut.
Baginya, tantangan dalam mempelajari materi yang belum banyak ditemui di perkuliahan menjadi bagian penting dari proses pengembangan diri. Melalui riset dan diskusi, para delegasi berupaya memperluas pemahaman hukum sekaligus melatih ketajaman berpikir kritis.
“Jujur, pada awalnya hal itu sangat sulit. Namun, kami terus belajar dan mengasah kemampuan,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan tim tidak terlepas dari bimbingan para mentor dan pembina PDC, yakni Fajar Moch Fauji selaku Ketua PDC 2026, Rafi Umeir, serta M. Sigit Ismail selaku Pembina PDC.
Menurut Rifa, proses belajar yang konsisten dan arahan dari para pembimbing membantu tim membangun argumentasi yang semakin kuat, meskipun harus berhadapan dengan lawan yang sebagian besar lebih senior secara akademik.
Kekompakan Tim Menjadi Kunci Kebangkitan

Selain tantangan akademik, delegasi PDC juga menghadapi tekanan mental, kesulitan menjaga ketenangan saat berdebat, serta perbedaan jadwal perkuliahan dan aktivitas masing-masing anggota. Dalam perjalanan kompetisi, semangat tim sempat mengalami penurunan dan dinamika internal turut menjadi tantangan tersendiri.
Namun, situasi tersebut dihadapi melalui komunikasi terbuka, saling mengingatkan, dan pembagian beban kerja yang lebih baik. Ketiga anggota berusaha kembali mengingat tujuan awal mereka mengikuti kompetisi serta menjaga komitmen untuk berjuang bersama hingga akhir.
Kebersamaan menjadi salah satu hal penting yang membantu tim melewati masa-masa sulit. Di tengah tekanan kompetisi, setiap anggota berusaha menjaga komunikasi dan memberikan dukungan agar tim tetap fokus pada tujuan bersama.
Bagi Najwa Putri Salsabilla, salah satu momen paling berkesan adalah ketika tim dinyatakan lolos ke babak semifinal setelah menyelesaikan pertandingan penyisihan.
“Selain itu, saya juga cukup terharu setelah mengetahui bahwa kami meraih juara 3 di kompetisi debat SJLF III ini,” ungkap Najwa.
Momen tersebut menjadi pengingat bahwa kerja keras selama persiapan memberikan hasil yang berarti. Keberhasilan melaju ke semifinal juga menjadi dorongan bagi tim untuk terus memberikan kemampuan terbaik hingga pertandingan terakhir.

Sementara itu, Nisa mengenang pertandingan perebutan juara ketiga sebagai pengalaman yang sangat berarti. Ia merasa mampu menerapkan hasil latihan ketika berhasil menanggapi argumen lawan dengan sanggahan yang relevan dan tepat sasaran.
Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa kemampuan mendengarkan dan memahami inti argumentasi lawan sama pentingnya dengan kemampuan menyampaikan pendapat. Dalam debat, ketepatan menanggapi argumen menjadi bagian penting untuk membangun sanggahan yang kuat dan terarah.
Pencapaian Juara 3 Sultan Jawara Law Festival III 2026 bukan sekadar hasil akhir sebuah kompetisi, melainkan juga bukti proses pembelajaran, keberanian mencoba, dan kemampuan untuk bangkit di tengah tekanan. Pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi para delegasi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi hukum, dan bekerja sama dalam menghadapi kompetisi berikutnya.
Ketiga delegasi juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa semester awal, agar tidak menunggu sampai merasa sepenuhnya siap untuk mengikuti kompetisi. Keberanian mencoba, kemauan belajar, serta keterbukaan terhadap kritik merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan diri dan kemampuan.
Nisa mengingatkan bahwa ketidaktahuan bukan alasan untuk mundur, melainkan dorongan untuk belajar lebih disiplin. Ia menekankan pentingnya menjadikan keterbatasan pengetahuan sebagai motivasi untuk terus memperdalam pemahaman dan mempersiapkan diri dengan lebih baik.

Rifa juga mengajak mahasiswa untuk berani mengejar rasa ingin tahu dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Menurutnya, proses mengikuti kompetisi dapat menjadi ruang belajar untuk mengenali potensi diri sekaligus memperluas wawasan.
Sementara itu, Najwa menegaskan bahwa kekalahan bukanlah kegagalan, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi untuk terus bertumbuh dan meraih kemenangan pada kesempatan berikutnya. Setiap hasil kompetisi, baik kemenangan maupun kekalahan, dapat menjadi bekal untuk memperbaiki strategi dan meningkatkan kemampuan.
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh anggota Pasundan Debate Club untuk terus mengembangkan potensi, memperkuat budaya belajar, dan berani tampil dalam berbagai kompetisi. Dengan semangat berproses dan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas diri, delegasi PDC diharapkan mampu menorehkan prestasi yang lebih tinggi di masa mendatang. (Rani)
