BANDUNG, unpas.ac.id – Universitas Pasundan (Unpas) kembali memperkuat jejaring kerja sama internasional dengan Eurasia Foundation melalui penyelenggaraan International Seminar of Eurasia Community 2026 dengan tema “Entrepreneurship Based Community Empowerment Model in Europe and Asia”, di Mandala Saba Ir. H. Djuanda, Kampus II Unpas Tamansari, Bandung, Rabu (7/10/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama akademik sekaligus membahas peran kewirausahaan dalam pemberdayaan masyarakat di tengah perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi.

Rangkaian kegiatan juga ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Unpas dan Eurasia Foundation. MoU ditandatangani Rektor Unpas Prof. Dr. H. Azhar Affandi, S.E., M.Sc. bersama Advisor Eurasia Foundation Indonesia Dr. Dianni Risda, M.Ed.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri, yakni Direktur Jenderal Binapenta dan PKK Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si., dari Busan University of Foreign Studies Dr. Kim Soo Il, serta dari Eurasia Foundation JAPAN Dr. Joon-Kon Chung.
Hadir juga para Wakil Rektor Bidang Belmawabud Prof. Dr. H. Cartono, S.Pd., M.Pd., M.T., Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Dana Usaha Unpas Prof. Dr. H. M. Budiana, S.I.P., M.Si., Direktur Pascasarjana Unpas Prof. Dr. H. Bambang Heru Purwanto, M.S., Ketua LPPM Unpas Bidang PKM Prof. Dr. Ir. H. Asep Dedy Sutrisno, M.P., Sekretaris LPPM sekaligus Ketua Eurasia Foundation Chapter Unpas Dr. Dindin Abdurohim BS., S.Sos., M.M., M.Si., serta para Dekan, Kaprodi, Ketua Lembaga, dosen, mahasiswa, dan para tamu undangan lainnya.

Rektor Unpas Prof. Dr. H. Azhar Affandi, S.E., M.Sc. menyampaikan apresiasi atas kembali dipercayanya Unpas sebagai bagian dari kegiatan Eurasia Foundation. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki arti khusus karena bukan merupakan kerja sama yang baru bagi Unpas. Sebelumnya, Unpas juga telah menyelenggarakan kegiatan bersama Eurasia Foundation pada 2019 dan 2020.
“Kegiatan ini melanjutkan perjalanan kerja sama dan persahabatan yang telah dibangun bersama Eurasia Foundation” katanya.
Ia menambahkan, kerja sama akademik lintas negara tidak hanya berorientasi pada pertukaran pengetahuan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun dunia yang harmonis, damai, dan sejahtera.

Prof. Azhar juga mengapresiasi konsep kegiatan yang tidak hanya menghadirkan seminar, tetapi turut menghadirkan lecture series sebagai ruang pembelajaran internasional bagi mahasiswa.
“Ini adalah bagaimana kita membuka ruang kelas kita kepada dunia, bagaimana mahasiswa mendengar perspektif dari negara lain, bagaimana perguruan tinggi dapat berbagi pengalaman, gagasan, budaya dan memberikan impact,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan serta menjadi bagian dari upaya bersama membangun masa depan yang lebih baik.
Dunia Kerja Berubah, Talenta Harus Adaptif

Sementara itu, Direktur Jenderal Binapenta dan PKK Kemnaker Prof. Dr. Sugeng Heri Suseno, S.Pi., M.Si. membawakan materi bertajuk “Menjadi Talenta Adaptif di Dunia Kerja yang Terus Berubah”.
Ia menjelaskan, saat ini komposisi tenaga kerja formal dan informal berada pada perbandingan sekitar 40:60. Di tengah perubahan tersebut, dunia kerja mengalami transformasi yang berlangsung sangat cepat.
Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang mengubah lanskap dunia kerja, yakni AI & Digitalitation Disruption, Green Transition & Sustainability dan Demografic & Care Economy Shift.
Perubahan tersebut kemudian berdampak pada empat sektor utama, yaitu Digital & Creative; AI & Tech-Driven Economy; Green, Blue, Circular & Sustainable Economy dan Care & People-Centered Economy.
“Sebagian pekerjaan hilang, tetapi peluang baru juga muncul,” katanya.

Ia menyebut sekitar 59 persen angkatan kerja perlu melakukan reskilling dan upskilling. Reskilling dibutuhkan bagi tenaga kerja yang pekerjaannya rentan hilang, sedangkan upskilling diperlukan bagi pekerja yang berada pada bidang pekerjaan yang diproyeksikan tumbuh di masa depan.
Selain keterampilan, sertifikasi kompetensi juga dinilai semakin penting sebagai bukti kemampuan yang diakui industri. Pendidikan formal dan ijazah, kata dia, belum tentu menggambarkan seluruh keterampilan yang dimiliki seseorang.
Ia memaparkan, 96 persen perusahaan mengakui sertifikasi kompetensi dapat memperkuat profil kandidat dalam proses rekrutmen. Sementara itu, 94 persen perusahaan bersedia menawarkan gaji awal yang lebih tinggi kepada lulusan dengan kompetensi yang dapat dibuktikan.
Sugeng menilai disrupsi terbesar saat ini salah satunya berasal dari perkembangan artificial intelligence (AI). Teknologi tersebut mengubah dunia usaha dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan memengaruhi pekerjaan di hampir seluruh sektor.
Karena itu, lulusan perguruan tinggi perlu memiliki core and technical skills, human skills, AI collaboration skills, growth mindset, serta entrepreneurial and innovative mindset.

Perguruan tinggi, lanjutnya, memiliki peran penting dalam membentuk lulusan dengan kemampuan konkret yang dapat diukur dan dibuktikan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengintegrasikan emerging skills, kreativitas, problem solving, inovasi, growth mindset, dan continuous learning dalam proses pendidikan.
“Perguruan tinggi juga perlu menjalin kolaborasi yang kuat dengan industri serta melakukan standardisasi micro-credential yang diakui pasar kerja,” ujarnya.
Ia berharap pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi dapat melahirkan berbagai inovasi baru.
“Saya mengharapkan dari kampus entrepreneurship ini bisa ada inovasi dari kampus. Sehingga ke depan kami ingin menggandeng kampus bersama Kemnaker memperluas tenaga kerja,” katanya.
Kewirausahaan Butuh Riset, Pengetahuan dan Jaringan

Narasumber dari Busan University of Foreign Studies, Dr. Kim Soo Il membahas tema “Strengthening Korea-Indonesia Collaboration through Entrepreneurship, Innovation and Community Empowerment.”
Kim Soo Il membagikan pengalamannya sebagai seorang pengusaha. Ia mengatakan, pemahamannya mengenai kewirausahaan berubah setelah dirinya terjun langsung menjadi pengusaha.
Sebelum menjadi pengusaha, ia memandang kewirausahaan terutama sebagai keberanian dan tantangan. Namun, setelah menjalani dunia usaha, ia menyadari bahwa keberanian saja tidak cukup.
“Memulai kalau tidak melakukan riset itu sangat bahaya,” ujarnya.
Menurutnya, seorang pengusaha harus memiliki pengetahuan sekaligus jaringan yang kuat. Promosi juga menjadi faktor penting karena produk yang baik tidak akan mudah terjual apabila tidak didukung kemampuan memperkenalkannya kepada pasar.
“Menjadi pengusaha itu selain keberanian harus memiliki pengetahuan dan yang paling penting itu jaringan dan promosi. Kalau tidak kuat promosi kita tidak bisa jualan,” katanya.
Eurasia Foundation Dorong Komunitas Dunia yang Damai

Sementara itu, narasumber dari Eurasia Foundation JAPAN, Dr. Joon-Kon Chung atau yang akrab disapa Chung Sensei, memperkenalkan kiprah dan tujuan Eurasia Foundation. Dalam penyampaiannya, Dr. Dianni Risda, M.Ed. turut mendampingi sebagai penerjemah bahasa Jepang.
Chung Sensei menjelaskan bahwa Eurasia Foundation memiliki tujuan memberikan kontribusi kepada dunia untuk menciptakan kehidupan yang tenteram dan bebas dari konflik.
Menurutnya, semangat tersebut salah satunya diwujudkan melalui penyelenggaraan lecture series di berbagai perguruan tinggi di dunia. Selain Unpas, program tersebut telah diselenggarakan di 99 perguruan tinggi dunia.
Ia menilai tema pemberdayaan masyarakat berbasis kewirausahaan relevan dengan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.

Dalam kesempatan ini, ia mengangkat tema “Menyongsong Komunitas Baru”. Menurutnya, untuk memahami konsep komunitas, manusia perlu melihat kembali makna komunitas serta berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Dunia saat ini terdiri atas miliaran manusia dengan keragaman budaya, pemikiran, dan latar belakang. Namun, pada dasarnya manusia memiliki kebutuhan yang sama untuk hidup tenteram dan damai.
Untuk mewujudkannya, diperlukan kerja keras dan usaha bersama, termasuk dengan melihat kembali perjalanan manusia dalam membangun peradaban.

Ia menekankan pentingnya adab dan empati dalam membangun kehidupan bersama. Etika dan moral, termasuk agama, menurutnya menjadi bagian penting dalam membangun empati dan kehidupan sosial manusia.
“Indonesia memiliki dasar agama yang kuat. Untuk bisa memahami sebuah komunitas kita harus memahami apa yang menjadi dasar kehidupan manusia,” tuturnya.
Melalui International Seminar of Eurasia Community 2026, Unpas dan Eurasia Foundation tidak hanya memperkuat hubungan kelembagaan, tetapi juga membuka ruang pertukaran gagasan antara Indonesia, Asia, dan Eropa.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mempertemukan pendidikan, kewirausahaan, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat dalam membangun komunitas global yang lebih berdaya dan harmonis. (Rani)
