BANDUNG – Di tengah perkembangan era digital, citra diri menjadi salah satu aspek penting dalam membangun kepercayaan dan reputasi profesional. Setiap perilaku, cara berkomunikasi, hingga karya yang dihasilkan dapat membentuk persepsi publik terhadap seseorang maupun institusi tempatnya bernaung. Kesadaran inilah yang menjadi perhatian Universitas Pasundan (Unpas) dalam mendorong sivitas akademika untuk membangun personal branding yang positif dan autentik.
Upaya tersebut diwujudkan melalui seminar bertema “Membangun Citra Diri Positif” yang digelar di Mandala Saba Ir. H. Djuanda, Kampus II Unpas Tamansari, Kamis (22/10/2026). Seminar ini menghadirkan Communication Facilitator sekaligus Founder Sinergi Bicara, Rizqiani Putri, S.Sos., M.Med.Kom., sebagai narasumber.

Seminar ini dihadiri oleh Ketua Yayasan Pendidikan Dasar dan Menengah (YPDM) Pasundan adalah Prof. Dr. H. Dadang Mulyana, M.Si., Wakil Rektor Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, Alumni, Penelitian, Agama, dan Budaya (Belmawabud) Unpas Prof. Dr. H. Cartono, S.Pd., M.Pd., M.T., Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Sumber Daya, Keuangan, dan Sistem Teknologi Informasi Unpas Prof. Dr. Ir. H. Yudi Garnida, M.P., para Dekan serta Sivitas Akademika Unpas lainnya.
Rektor Unpas, Prof. Dr. H. Azhar Affandi, S.E., M.Sc., dalam sambutannya yang disampaikan secara virtual melalui Zoom, menegaskan bahwa personal branding harus diwujudkan melalui kompetensi, karakter, dan nilai-nilai positif yang tercermin dalam perilaku serta kontribusi nyata.
Menurutnya, setiap unsur di lingkungan universitas memiliki peran dalam membentuk citra institusi. Bagi pimpinan, hal tersebut tercermin melalui keteladanan dan tanggung jawab. Bagi dosen, melalui kompetensi akademik, integritas, serta pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sementara itu, tenaga kependidikan berperan melalui profesionalisme, kedisiplinan, dan kualitas pelayanan.
“Setiap individu merupakan representasi Universitas Pasundan. Cara kita bekerja, berkomunikasi, melayani mahasiswa, berkolaborasi, hingga berinteraksi di ruang digital turut membentuk citra dan reputasi institusi,” ujarnya.

Prof. Azhar menjelaskan, terdapat tiga hal penting yang perlu dibangun bersama untuk memperkuat citra diri positif. Pertama, integritas dan karakter, yakni keselarasan antara perkataan dan perbuatan serta konsistensi dalam menjunjung etika dan tanggung jawab.
Kedua, kompetensi dan kontribusi nyata melalui peningkatan kemampuan, inovasi, serta hasil kerja yang memberikan manfaat bagi institusi dan masyarakat. Ketiga, komunikasi dan kolaborasi dengan membangun hubungan kerja yang sehat, saling menghargai, dan memperkuat sinergi untuk mencapai tujuan bersama.
Ia menekankan bahwa membangun citra diri positif bukan tentang mengejar popularitas, melainkan menumbuhkan kepercayaan.
“Bukan sekadar ingin dikenal, tetapi ingin dikenal karena integritas, kompetensi, dan kontribusi kita,” tegasnya.
Menurutnya, reputasi Unpas tidak hanya dibangun melalui program dan capaian institusi, tetapi juga melalui kualitas, perilaku, dan karya seluruh insan yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, ia berharap seminar tersebut dapat memperkuat budaya kerja yang profesional, berintegritas, kolaboratif, serta berorientasi pada pelayanan dan prestasi.
Personal Branding Harus Diwujudkan Melalui Karya

Dalam pemaparan materi bertajuk “Build Your Brand, Strengthen Unpas: Membangun Citra Diri Autentik yang Positif”, Rizqiani Putri menegaskan bahwa personal branding tidak cukup dibangun dengan sekadar hadir dan mengamati aktivitas di media sosial. Diperlukan tindakan nyata berupa karya dan kontribusi yang memberikan nilai tambah.
Ia menjelaskan, citra sebuah perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh logo dan fasilitas kampus, tetapi juga oleh kualitas dosen dan pembelajaran, sistem pelayanan administrasi, respons pegawai, serta pengalaman mahasiswa dan alumni.
Dengan demikian, setiap interaksi yang terjadi di lingkungan kampus memiliki pengaruh terhadap cara publik memandang dan menilai institusi. Pelayanan yang baik, komunikasi yang profesional, serta respons yang tepat terhadap persoalan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat.
Sebagai ilustrasi, Rizqiani mencontohkan penanganan kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi yang melibatkan gerbong perempuan. Ia menyoroti pentingnya respons institusi melalui penyampaian permohonan maaf dan belasungkawa, kehadiran pimpinan di lokasi, serta keterbukaan terhadap proses investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Menurutnya, respons yang menunjukkan empati, tanggung jawab, dan keterbukaan dapat memengaruhi persepsi publik terhadap suatu organisasi. Hal tersebut memperlihatkan bahwa reputasi tidak hanya ditentukan oleh kejadian yang dialami, tetapi juga oleh cara institusi merespons dan bertanggung jawab atas situasi tersebut.
Rizqiani juga mengingatkan bahwa personal branding perlu dibangun secara sadar dan strategis. Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana untuk terhubung dengan orang lain, tetapi juga menjadi etalase digital yang merepresentasikan kompetensi, karakter, dan perilaku seseorang.
Aktivitas di media sosial, baik yang berkaitan dengan pekerjaan di Unpas maupun kehidupan personal sehari-hari, dapat membentuk persepsi publik terhadap individu sekaligus institusi tempatnya bernaung.
Karena itu, personal branding tidak dapat sepenuhnya diserahkan pada proses yang berjalan secara alami. Diperlukan perencanaan, strategi, serta keterampilan komunikasi profesional agar citra yang dibangun selaras dengan nilai dan kompetensi yang dimiliki.
Ia menambahkan, reputasi perguruan tinggi turut dibentuk oleh mutu akademik, kepemimpinan, tata kelola, fasilitas, dan kualitas komunikasi. Seluruh aspek tersebut saling berkaitan dalam membangun kepercayaan publik.
“Kita tidak hanya bekerja di dalam sebuah institusi. Melalui setiap interaksi, kita ikut membentuk bagaimana institusi itu dikenal, dirasakan dan dipercaya,” tutur Rizqiani.
Melalui seminar ini, Unpas mendorong seluruh sivitas akademika untuk menjadikan personal branding sebagai bagian dari budaya kerja sehari-hari. Citra diri yang positif diharapkan tidak berhenti pada penampilan atau aktivitas di ruang digital, tetapi tercermin melalui integritas, profesionalisme, kualitas pelayanan, kolaborasi, dan karya nyata. (Rani)
