BANDUNG, unpas.ac.id – Bermula dari kecintaan terhadap membaca dan menulis, Putri Nuraeni, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Pasundan (Unpas) terpilih menjadi Duta Baca Penggerak Kabupaten Bandung 2026.
Melalui amanah tersebut, Mahasiswi semester 3 ini bertekad membangun ekosistem literasi yang inklusif, kreatif, dan berkelanjutan, khususnya bagi generasi muda di Kabupaten Bandung.
Kecintaan terhadap dunia literasi telah membawa Putri Nuraeni pada perjalanan yang bermakna. Ia memulai langkahnya dari kegemaran menulis cerita fiksi. Baginya, menulis dan membaca merupakan dua aktivitas yang saling berkaitan. Membaca menjadi salah satu bekal penting bagi seorang penulis untuk memperluas wawasan, memperkaya imajinasi, dan mengembangkan gagasan.
Ketertarikan tersebut kemudian mendorong Putri untuk terlibat dalam berbagai kegiatan literasi. Pada 2024, ia merintis komunitas berbasis daring sebagai ruang untuk menumbuhkan minat dan kreativitas dalam dunia literasi. Namun, ia menyadari bahwa gerakan literasi tidak cukup hanya berlangsung di ruang digital. Ia ingin menghadirkan kegiatan yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat, terutama di lingkungan tempat ia tumbuh, yaitu Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung.
Keinginan untuk memperluas jangkauan gerakan tersebut menjadi salah satu alasan Putri mendaftarkan diri sebagai Duta Baca Penggerak Kabupaten Bandung 2026. Perjalanan menuju pencapaian itu bukan tanpa tantangan. Berbagai proses dan persiapan harus dilalui hingga akhirnya ia memperoleh amanah tersebut.
“Perjalanan ke ranah Duta Baca tidak mudah, tetapi qadarullah, apa yang saya perjuangkan selama ini bisa menghantarkan saya pada amanah Duta Baca Penggerak 2026,” ungkap Putri.
Lebih dari Sekadar Mengampanyekan Kebiasaan Membaca

Bagi Putri, menjadi Duta Baca Penggerak bukan sekadar menjadi simbol atau wajah promosi membaca. Lebih dari itu, peran tersebut merupakan tanggung jawab untuk menjadi penggerak perubahan (agent of change) yang mampu mengubah minat baca menjadi tindakan nyata.
Menurutnya, gerakan literasi harus mampu menjembatani akses terhadap pengetahuan, menghidupkan ruang diskusi, dan membangun lingkungan yang mendukung masyarakat untuk terus berkembang. Dengan demikian, literasi tidak berhenti pada kegiatan membaca buku, tetapi menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat.
Putri juga memandang literasi sebagai kemampuan yang melampaui keterampilan membaca dan menulis. Literasi yang sesungguhnya melibatkan kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, mengenali berita bohong atau hoaks, serta mengambil keputusan secara bijaksana.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan tersebut menjadi semakin penting. Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memiliki kecakapan untuk memahami informasi secara mendalam, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, dan menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
“Literasi adalah fondasi dari nalar yang sehat,” menjadi salah satu prinsip yang dipegang Putri dalam memaknai gerakan literasi.
Menghadirkan Literasi yang Dekat dengan Kehidupan Anak Muda

Dalam pandangan Putri, salah satu tantangan terbesar dalam membangun budaya literasi di Kabupaten Bandung adalah distraksi digital yang tidak terarah serta belum meratanya akses terhadap fasilitas dan bahan bacaan berkualitas di sejumlah wilayah.
Kehadiran media sosial dan beragam konten instan membuat aktivitas membaca buku kerap dianggap kurang menarik. Di sisi lain, kesempatan untuk memperoleh bahan bacaan yang memadai belum tentu tersedia secara merata bagi seluruh masyarakat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Putri ingin menghadirkan kegiatan literasi yang lebih santai, interaktif, dan dekat dengan keseharian masyarakat. Ia meyakini bahwa menumbuhkan kebiasaan membaca tidak selalu harus dimulai dari ruang formal atau melalui buku-buku yang berat.
Salah satu program yang disiapkannya adalah Reka Jiwa, sebuah inisiatif yang dirancang untuk memadukan kegiatan membaca, diskusi, dan penciptaan karya. Melalui program ini, peserta tidak hanya diajak menikmati bacaan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk menyampaikan gagasan, berdiskusi, dan menghasilkan karya berdasarkan pengalaman serta pemahaman mereka.
Bagi Putri, ruang literasi ideal adalah ruang yang memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk belajar sekaligus berkarya. Dengan pendekatan tersebut, membaca diharapkan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebagai kegiatan yang menyenangkan dan memiliki hubungan nyata dengan kehidupan sehari-hari.
Ia juga berencana menghadirkan forum baca dan bedah buku di tempat-tempat yang lebih kasual, seperti kafe, taman, atau ruang terbuka kreatif yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Nagreg.
Agar kegiatan semakin menarik, Putri ingin mengembangkan metode interaktif melalui kuis berbasis aplikasi, diskusi buku yang diadaptasi menjadi film populer, serta pembahasan yang menghubungkan isi bacaan dengan persoalan yang dekat dengan kehidupan anak muda, seperti kesehatan mental, pengembangan diri, dan karier.
Melalui pendekatan tersebut, forum literasi diharapkan menjadi ruang bertukar pikiran yang menyenangkan sekaligus mendorong peserta untuk menghasilkan karya bersama.
Mengubah Keraguan Menjadi Ruang Bertumbuh

Perjalanan Putri sebagai Duta Baca Penggerak juga menjadi proses pembelajaran bagi dirinya sendiri. Ia mengakui bahwa salah satu tantangan terbesarnya adalah mengatasi keraguan diri serta menyelaraskan visi pribadi dengan kebutuhan nyata masyarakat Kabupaten Bandung, khususnya di wilayah tempat tinggalnya.
Proses seleksi yang menuntut kesiapan, pemikiran yang terencana, dan kemampuan mempresentasikan program kerja mendorongnya keluar dari zona nyaman. Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa niat baik perlu disertai persiapan mental, kompetensi, dan kemampuan beradaptasi.
Kini, amanah sebagai Duta Baca Penggerak menjadi dorongan bagi Putri untuk terus mengembangkan kapasitas diri. Ia berkomitmen menjaga konsistensi dalam membaca, menulis, dan mengelola komunitas literasi yang telah dirintisnya.
“Keteladanan tidak cukup ditunjukkan melalui ajakan atau kampanye. Keteladanan harus hadir dalam tindakan nyata, mulai dari membuka lapak baca gratis, melaksanakan kegiatan Reka Jiwa, hingga menyelenggarakan pelatihan menulis,” ujarnya.
Ia ingin membuktikan bahwa literasi bukan sekadar aktivitas yang dilakukan ketika seseorang menyandang gelar duta, melainkan bagian dari gaya hidup yang terus dijalankan.
Di balik berbagai program yang ingin diwujudkannya, Putri memiliki pemaknaan personal terhadap literasi.
“Literasi sebagai kompas kehidupan sekaligus ruang pembebasan yang membantunya memahami dunia dan menemukan cara untuk mengekspresikan diri,” ucapnya.
Melalui membaca, ia memperoleh wawasan dan sudut pandang baru. Sementara itu, melalui menulis, ia menemukan ruang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, serta gagasan yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung.
Pengalaman tersebut turut membentuk keyakinannya bahwa literasi dapat membawa perubahan dalam kehidupan seseorang. Karena itu, ia ingin semakin banyak orang merasakan manfaat membaca dan menulis, termasuk mereka yang belum menemukan ketertarikan terhadap buku.
Kepada masyarakat Kabupaten Bandung dan mahasiswa Universitas Pasundan yang belum terbiasa membaca, Putri menyampaikan pesan sederhana: “setiap orang memiliki pintu masuknya sendiri untuk mencintai buku.”
Menurutnya, seseorang tidak harus langsung membaca buku yang tebal atau dianggap berbobot oleh orang lain. Kebiasaan membaca dapat dimulai dari satu halaman setiap hari, dengan memilih topik yang benar-benar disukai, mulai dari musik, olahraga, romansa, hingga komik.
“Jangan paksa dirimu membaca buku berat yang disukai orang lain. Mulailah dari satu halaman per hari tentang topik yang paling kamu gila-gilaan sukai,” pesannya.
Ia meyakini bahwa ketika seseorang menemukan bacaan yang sesuai dengan minatnya, membaca dapat berkembang menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Dari kebiasaan tersebut, wawasan bertambah, pola pikir berkembang, dan kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik pun semakin terbuka.
Membangun Ekosistem Literasi yang Inklusif dan Berkelanjutan

Setelah terpilih menjadi Duta Baca Penggerak Kabupaten Bandung 2026, Putri berharap dapat memperluas dampak gerakan literasi yang selama ini dibangunnya. Salah satu tujuan utamanya adalah membawa komunitas literasi yang telah dirintis secara daring ke ruang-ruang pertemuan langsung, sehingga semakin banyak masyarakat dapat terlibat secara aktif.
Ia juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas jangkauan kegiatan literasi dan menciptakan program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Lebih jauh, Putri ingin berkontribusi dalam melahirkan generasi muda Kabupaten Bandung yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kritis, solutif, kreatif, dan berwawasan luas.
Baginya, keberhasilan gerakan literasi tidak semata-mata diukur dari banyaknya buku yang dibaca, melainkan juga dari perubahan cara berpikir, tumbuhnya kreativitas, serta kemampuan seseorang untuk memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Sejatinya manusia adalah ia yang bermanfaat bagi yang lain. Dengan amanah ini, saya akan berusaha meningkatkan kualitas diri agar mampu mendampingi mimpi orang lain dengan literasi,” tuturnya.
Perjalanan Putri Nuraeni menjadi Duta Baca Penggerak Kabupaten Bandung 2026 menjadi gambaran bahwa kecintaan terhadap membaca dan menulis dapat berkembang menjadi gerakan yang membawa manfaat bagi masyarakat. Berangkat dari hobi, tumbuh melalui komunitas, dan diperkuat oleh semangat pengabdian, Putri berupaya menjadikan literasi sebagai ruang bersama untuk belajar, berkarya, dan bertumbuh.
Melalui langkah tersebut, ia berharap semakin banyak generasi muda yang menemukan makna membaca, berani menuangkan gagasan melalui tulisan, dan menjadikan pengetahuan sebagai bekal untuk menciptakan perubahan positif bagi masa depan. (Rani)
