BANDUNG, unpas.ac.id – Universitas Pasundan (Unpas) memperkuat kontribusinya dalam mengatasi persoalan persampahan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Sampah Tuntas 2026.
KKN Tematik “Sampah Tuntas” adalah program pengabdian masyarakat berbasis perguruan tinggi yang digagas melalui kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan LLDIKTI Wilayah IV dalam kerangka program GRADASI (Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi).
Sebanyak lebih dari 350 mahasiswa siap diterjunkan untuk mengedukasi dan mendampingi masyarakat dalam membangun pola pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Pembekalan sekaligus pembukaan KKN Tematik Sampah Tuntas 2026 diselenggarakan di Mandala Saba Ir. H. Djuanda, Kampus II Unpas Tamansari, Rabu (4/11/2026). Program ini menyasar enam kelurahan di Kecamatan Astana Anyar, yakni Cibadak, Karanganyar, Panjunan, Pelindung Hewan, Nyengseret, dan Karasak.

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor Bidang Penelitian, Inovasi, PPM, Kerja Sama, Kewirausahaan dan Dana Usaha Unpas Prof. Dr. H. M. Budiana, S.I.P., M.Si., Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Dr. Lukman, S.T., M.Hum., serta Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) Unpas Prof. Dr. Ir. H. Asep Dedy Sutrisno, M.P.
Turut hadir para dekan dan kepala biro Unpas, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat dan DLH Kota Bandung, jajaran Kecamatan Astana Anyar dan sejumlah kelurahan, dosen pendamping lapangan (DPL) dari setiap fakultas, serta mahasiswa peserta KKN Tematik.
Wakil Rektor Unpas Prof. Dr. H. M. Budiana mengatakan sebelum pelaksanaan, Unpas juga telah berkoordinasi dengan DLH, camat, dan lurah di wilayah Kecamatan Astana Anyar sebagai lokasi pengabdian.
Menurutnya, KKN Tematik ini tidak hanya menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dalam menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sampah.
“Mudah-mudahan para pimpinan wilayah di Kota Bandung dapat memanfaatkan temuan-temuan tim Unpas, khususnya terkait alat pengolahan sampah,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya membangun kebiasaan mengelola sampah agar memberikan manfaat bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu mengambil peran sebagai generasi penerus yang membawa perubahan positif, dimulai dari kebersihan diri dan lingkungan sekitar.
“Kita harus mulai membiasakan diri mengelola sampah agar bermanfaat bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Mari mulai dari membersihkan diri dan lingkungan. Kami berharap mahasiswa dapat melaksanakan tugas tematik ini dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten Dr. Lukman, S.T., M.Hum. mengapresiasi inisiatif Unpas melalui KKN Tematik Sampah Tuntas dengan semangat GRADASI (Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi) di kawasan Bandung Raya.
Ia mengajak perguruan tinggi untuk bergotong royong bersama pemerintah dan masyarakat dalam menangani persoalan sampah. Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat bukan untuk menggantikan pekerjaan petugas kebersihan, melainkan mengamati pola pengelolaan sampah yang selama ini berjalan, mengidentifikasi permasalahan, serta menghadirkan intervensi dan inovasi.
“Mahasiswa diturunkan bukan untuk menggantikan petugas sampah, tetapi untuk mengamati pola yang ada di masyarakat. Selanjutnya harus ada intervensi, inovasi, dan perubahan budaya, dimulai dari hal-hal kecil,” jelasnya.
LLDIKTI Wilayah IV memberikan waktu pelaksanaan program hingga 31 Desember 2026. Dalam kurun waktu tersebut, mahasiswa diharapkan dapat membantu pemerintah daerah menemukan solusi dan memperkuat penanganan persoalan sampah agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Ketua Bidang Pengabdian kepada Masyarakat (LPM) Unpas Prof. Dr. Ir. H. Asep Dedy Sutrisno, M.P. mengungkapkan, Unpas sejatinya telah memiliki pengalaman dalam mengembangkan solusi pengelolaan sampah terpadu sejak beberapa tahun lalu.
Unpas bahkan mengusung tagline “Dari Sampah untuk Pakan, Pangan, dan Energi” sebagai arah pengembangan pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai guna.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan sampah adalah membangun kesadaran sekaligus kemauan masyarakat untuk mengelola sampah sejak dari sumbernya. Dengan demikian, sampah yang harus dibuang ke tempat pemrosesan akhir dapat ditekan seminimal mungkin.
“Bagaimana kita mengedukasi masyarakat agar memiliki kemauan menangani sampah secara tuntas dari hulunya, sehingga yang terbuang hanya sedikit,” ungkapnya.
Dorong Paradigma Baru Pengelolaan Sampah

Dalam sesi pembekalan, Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Madya DLH Provinsi Jawa Barat Pipien Dianasari, S.T. memaparkan kondisi persampahan di Jawa Barat. Berdasarkan data yang disampaikan, total timbulan sampah di Jawa Barat mencapai 25.660,46 ton per hari, dengan mayoritas berasal dari sampah rumah tangga.
Kondisi tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, terutama dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya di kawasan Bandung Raya.
Pipien menjelaskan paradigma baru pengelolaan sampah melalui tiga langkah utama, yaitu pisah, olah, dan manfaatkan.
Pertama, memisahkan sampah sejak dari sumbernya menjadi sampah organik, anorganik, dan residu. Kedua, mengolah sampah sesuai jenisnya agar dapat menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Ketiga, memanfaatkan hasil pengolahan sampah untuk mendukung kepentingan ekonomi, lingkungan, dan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai edukator dan pendamping masyarakat. Mereka diharapkan mampu mengedukasi warga mengenai pentingnya pemilahan sampah dari sumber, mendorong pengolahan sampah rumah tangga melalui kompos maupun bank sampah, serta melakukan pencatatan data pemilahan sampah harian.
Enam Program Wajib, Mahasiswa Jadi Motor Perubahan

Koordinator Dosen Pendamping Lapangan (DPL) Dr. Anni Rochaeni, M.T. menjelaskan, KKN Tematik Sampah Tuntas dirancang untuk mengubah pola penanganan sampah yang selama ini cenderung berorientasi pada hilir menjadi penanganan dari hulu.
Hal tersebut dilatarbelakangi tingginya timbulan sampah di kawasan Bandung Raya, sementara sebagian besar sampah diperkirakan belum tertangani secara optimal. Karena itu, edukasi, pembiasaan, pemilahan, dan pengolahan sejak tingkat rumah tangga menjadi fokus utama program.
Perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat didorong untuk bekerja bersama dalam menciptakan perubahan perilaku yang terukur dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, setiap kelompok mahasiswa wajib menjalankan enam program utama, meliputi:
- Edukasi jenis sampah dan 3R, mencakup pemilahan sampah organik, anorganik, B3 rumah tangga, dan residu.
- Pemetaan dan pendataan partisipatif, meliputi kondisi rumah tangga, pola pembuangan sampah, fasilitas yang tersedia, serta potensi kader lingkungan.
- Pendampingan pemilahan sampah rumah tangga, melalui pembentukan rumah tangga percontohan dan penyediaan media edukasi.
- Pengomposan skala rumah tangga atau komunal, menggunakan komposter, metode Takakura, biopori, maupun metode sederhana lainnya.
- Penguatan atau inisiasi bank sampah, termasuk pengembangan kelembagaan, sistem pencatatan, dan edukasi ekonomi sirkular.
- Pelaporan dan evaluasi partisipatif, melalui logbook mingguan, evaluasi bersama warga, serta penyusunan rencana keberlanjutan program.

Selain program wajib, mahasiswa juga didorong menghadirkan berbagai inovasi sesuai potensi dan kebutuhan wilayah. Beberapa di antaranya adalah budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah sampah organik, digitalisasi bank sampah, pengembangan produk kreatif hasil daur ulang, edukasi pengelolaan sampah di sekolah, pembentukan kawasan percontohan bebas sampah, serta edukasi inklusif bagi kelompok rentan.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya bertindak sebagai pelaksana kegiatan, tetapi juga sebagai motivator perubahan perilaku, fasilitator edukasi, pendamping masyarakat, serta penggerak kolaborasi dan inovasi.
KKN Tematik Sampah Tuntas 2026 diharapkan menjadi langkah nyata Unpas dalam memperkuat sinergi perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat. Lebih dari sekadar program pengabdian, kegiatan ini diarahkan untuk menumbuhkan budaya baru dalam pengelolaan sampah, dimulai dari rumah tangga dan lingkungan terdekat. (Rani)
