Sejarah Berdirinya Universitas Pasundan (Unpas): Jejak Langkah di Kota Pendidikan
Bandung sebagai Episentrum Pendidikan di Tatar Sunda Berbicara tentang Bandung tidak bisa dilepaskan dari identitasnya sebagai “Kota Pendidikan”. Secara historis, Bandung merupakan salah satu cikal bakal lahirnya lembaga-lembaga pendidikan modern di Indonesia. Evolusi ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang sejak era Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Daendels (1808-1811 M).
Pada abad ke-19, Bandung berkembang menjadi pusat pemerintahan Karesidenan Priangan (1864) dan ibukota Provinsi Jawa Barat (1926). Meski era kolonial sarat dengan eksploitasi sosial-ekonomi, pertengahan abad ke-19 membawa angin segar melalui penerapan Politik Etis. Pemerintah kolonial mulai membuka akses pendidikan bagi kaum bumiputra. Tentu saja, tujuan awalnya bersifat praktis: mencetak tenaga kerja terdidik berbiaya murah untuk mendukung roda administrasi dan ekonomi Hindia Belanda, khususnya di sektor perkebunan Bandung yang tengah pesat (teh, kopi, dan kina).
Berdasarkan Keputusan Raja Belanda No. 95 pada 30 September 1848, dialokasikanlah dana pendidikan untuk kaum bumiputra. Meski awalnya fasilitas didominasi oleh anak-anak Eropa, pada tahun 1860-an Sekolah Dasar untuk bumiputra mulai dibangun, yang disusul oleh perkembangan sekolah lanjutan dan perguruan tinggi di awal abad ke-20.
Tumbuhnya Kesadaran Pendidikan dan Peran Paguyuban Pasundan Sistem pendidikan awal memang eksklusif untuk kalangan bangsawan. Anak-anak dari rakyat jelata umumnya hanya ditampung di Sekolah Dasar Kelas Dua (De Scholen der Tweede Klasse) dengan masa belajar lima tahun untuk menjadi pegawai rendah. Namun, momentum ini tanpa disadari telah melahirkan generasi bumiputra yang terdidik secara modern.
Penyelenggaraan pendidikan ternyata tidak hanya dimonopoli oleh pemerintah kolonial. Pihak swasta pun turut berkiprah. Sejarah mencatat bahwa Paguyuban Pasundan—sebuah organisasi yang berdiri pada tahun 1913—ikut ambil bagian dalam memajukan pendidikan sesuai dengan cita-cita luhur pendiriannya.
Hingga tahun 1925, Bandung telah memiliki 178 sekolah dari berbagai jenjang, mulai dari MULO (setingkat SMP), AMS (SMA), HBS, hingga sekolah kejuruan spesifik seperti MOSVIA (calon pamongpraja) dan HIK (calon guru). Puncaknya, pendidikan tinggi pertama di Indonesia berdiri di Bandung pada tahun 1920, yaitu Technische Hoge School (THS, yang kini menjadi ITB).
Sempat mengalami kemunduran di masa pendudukan Jepang (1942) yang memfokuskan sumber daya untuk Perang Asia, dunia pendidikan Indonesia kembali bangkit pasca-kemerdekaan. Antusiasme masyarakat melonjak drastis. Pada tahun 1955, berdirilah Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG, yang menjadi cikal bakal UPI) dan Universitas Merdeka. Kedua institusi ini kemudian digabungkan menjadi Universitas Padjadjaran (Unpad) pada tahun 1957.
Lahirnya Universitas Pasundan (Unpas) sebagai Perintis PTS Ledakan jumlah lulusan SLTA di era kemerdekaan melahirkan tantangan baru: kapasitas perguruan tinggi negeri yang ada saat itu (seperti ITB dan Unpad) tidak mampu menampung seluruh calon mahasiswa. Berangkat dari realitas inilah, Paguyuban Pasundan memprakarsai pendirian Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang kini kita kenal sebagai Universitas Pasundan (Unpas).
Tokoh sentral di balik gagasan visioner ini adalah Raden Soedarma Soeradiradja (Suradiraja), Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Paguyuban Pasundan yang saat itu juga menjabat sebagai Ketua Harian Panitia Pembentukan Unpad. Meski berlatar belakang pendidikan menengah pertanian (Middelbare Landbouwshool) dan pernah sukses sebagai wiraswastawan perkebunan Onderneming Madu Tawon di Sukabumi, kecintaan Suradiraja terhadap dunia pendidikan jauh melebihi profesi awalnya.
Berbekal pergaulan luas dengan tokoh pergerakan nasional seperti Ir. Soekarno dan Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan (PTIP) Prof. Mr. Moh. Yamin, Suradiraja mulai merintis jalan berdirinya Unpas. Saat sibuk mempersiapkan pembentukan Unpad, ia menyampaikan sebuah komitmen penting kepada Moh. Yamin:
“Baiklah, Panitia Pendirian Universitas Negeri (Unpad) akan kami bentuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya agar universitas itu nanti dapat berdiri dengan lancar. Tapi, saya dari Paguyuban Pasundan, apabila suatu ketika nanti akan mendirikan suatu universitas swasta, saya minta agar Anda dapat mengizinkan dan membantu seperlunya.”
Permintaan historis tersebut langsung disetujui oleh Moh. Yamin. Langkah nyata pun segera diambil oleh PB Paguyuban Pasundan. Secara de facto, Unpas mulai menerima mahasiswa baru sejak tahun ajaran 1960/1961 (dimulai pada bulan Juli) untuk Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, serta Fakultas Administrasi Negara dan Niaga.
Pada fase embrional ini, proses perkuliahan telah berjalan penuh semangat untuk memenuhi dahaga pendidikan masyarakat, meskipun secara de jure payung hukum berupa statuta dari kementerian baru akan menyusul di kemudian hari.






























































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































































